Pengiriman Uang Kripto dari Kanada ke Asia Melonjak 141 Persen, Tembus Rp37 Triliun

Pengiriman uang kripto dari Kanada ke sejumlah negara di Asia mengalami lonjakan signifikan sebesar 141 persen dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Tren pengiriman uang atau remitansi menggunakan aset digital ini semakin diminati di jalur koridor pembayaran menuju India, China, dan Filipina.
Laporan terbaru dari perusahaan analisis blockchain Chainalysis mencatat nilai total transaksi ini mencapai angka USD 2,36 miliar atau setara Rp37,1 triliun.
Peningkatan tersebut menunjukkan pergeseran perilaku masyarakat migran dalam mengirimkan dana kepada keluarga di negara asal. Penggunaan aset kripto dipilih karena menawarkan proses yang lebih cepat dibandingkan sistem perbankan konvensional yang seringkali memakan waktu berhari-hari. Berdasarkan data periode 12 bulan yang berakhir pada Juni 2024, terdapat 3,56 juta transaksi dengan nilai rata-rata USD 663 (sekitar Rp10,4 juta) per pengiriman.
Aset kripto jenis stabilcoin atau mata uang digital yang nilainya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS, menjadi instrumen utama dalam lonjakan ini. Ketiga negara Asia tersebut menyumbang 19,4 persen dari total nilai keluar stabilcoin dari Kanada, meningkat pesat dari tahun sebelumnya yang hanya 10,9 persen.
Filipina secara khusus mencatatkan pertumbuhan pengiriman uang kripto sebesar 28 persen dengan nilai mencapai USD 61,02 juta (sekitar Rp961 miliar).
Kepala Penelitian Chainalysis, Eric Jardine, menjelaskan bahwa pertumbuhan di Filipina juga diiringi dengan kenaikan jumlah transaksi sebesar 34,7 persen menjadi 73.564 transaksi. Analisis ini mencakup transaksi Bitcoin dan stabilcoin di atas USD 10.000 yang melibatkan dompet digital pribadi. Data ini memberikan gambaran bahwa adopsi kripto bukan lagi sekadar spekulasi investasi, melainkan sudah masuk ke fungsi utilitas harian.
Kanada kini menempati peringkat tertinggi di antara negara-negara G7 dalam hal ekonomi kripto berbasis peer-to-peer (P2P). Sistem P2P merupakan metode transaksi langsung antar individu tanpa melalui perantara lembaga keuangan terpusat.
Besarnya populasi penduduk kelahiran asing yang mencapai 23 persen dari total populasi Kanada menjadi faktor pendorong utama fenomena ini.
Morva Rohani selaku Direktur Eksekutif Canadian Web3 Council menyatakan bahwa koridor remitansi ke India, Filipina, Nigeria, Pakistan, dan China digunakan secara sangat masif. Web3 Council sendiri merupakan organisasi yang berfokus pada pengembangan teknologi internet generasi ketiga berbasis blockchain di Kanada. Tingginya biaya layanan remitansi tradisional menjadi alasan kuat bagi para migran untuk beralih ke teknologi blockchain.
Data Bank Dunia menunjukkan rata-rata biaya pengiriman uang dari Kanada melalui jalur perbankan formal mencapai 6,7 persen dari total dana yang dikirim. Sebagai perbandingan, biaya penyelesaian di jaringan blockchain jauh lebih rendah, meskipun pengguna masih harus memperhitungkan biaya konversi mata uang dan pencairan tunai.
Stabilcoin tercatat menguasai 44 persen dari volume buku pesanan berbasis dolar Kanada pada Juni 2024, naik dari 30 persen pada tahun sebelumnya.
Laporan tersebut juga menemukan adanya korelasi antara aktivitas P2P domestik di Kanada dengan perubahan populasi pemegang visa sementara sejak pertengahan 2021. Eric Jardine menegaskan bahwa pihaknya tidak membatasi analisis pada transaksi kecil saja agar tetap bisa menangkap nilai remitansi yang sebenarnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan data yang disajikan mencerminkan arus modal yang nyata di tengah masyarakat migran.
Secara global, arus stabilcoin lintas batas memang tengah menunjukkan tren positif dengan kenaikan 77,5 persen menjadi USD 220,3 miliar (sekitar Rp3.468 triliun). Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan semakin mudahnya akses ke platform pertukaran aset digital. Bagi negara seperti Indonesia yang juga memiliki banyak pekerja migran, pola perkembangan di Kanada ini dapat menjadi referensi mengenai efisiensi biaya pengiriman uang.
Pemerintah di berbagai negara Asia kini mulai menyesuaikan regulasi untuk merespons arus modal digital yang semakin deras ini.
Indonesia sendiri memiliki potensi serupa karena besarnya arus remitansi dari pekerja migran yang tersebar di seluruh dunia. Penggunaan teknologi blockchain untuk pengiriman uang dapat membantu menekan biaya transaksi yang selama ini menjadi beban bagi para pekerja migran. Jika infrastruktur pendukung dan regulasi sudah memadai, efisiensi yang dirasakan oleh pekerja migran di Kanada dapat pula dinikmati oleh masyarakat Indonesia.
Meskipun demikian, tantangan mengenai fluktuasi nilai dan literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah bagi para penyedia layanan. Keamanan aset dan perlindungan konsumen tetap menjadi fokus utama di tengah adopsi yang semakin luas ini.
Pertumbuhan transaksi di koridor Asia ini sekaligus memperkuat posisi wilayah ini sebagai pusat aktivitas ekonomi digital dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor










