
Bitcoin berpeluang besar untuk mempertahankan tradisi performa kuat pada bulan Oktober, atau yang populer dengan sebutan Uptober. Analisis data onchain terbaru mengindikasikan bahwa harga dasar lokal untuk Bitcoin mulai terbentuk di tengah berbagai dinamika pasar yang menantang.
Analisis dari platform CryptoQuant menunjukkan kondisi pasar saat ini berada dalam tahap optimisme yang hati-hati bagi para investor.
Harga Bitcoin terus menghadapi tekanan dari kombinasi faktor ekonomi makro dan ketidakpastian geopolitik global yang cukup kompleks. Beberapa faktor penghambat mencakup tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang mencapai level tertinggi dalam 24 tahun, serta lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut sempat meredam ekspektasi pelaku pasar terhadap reli besar yang biasanya terjadi pada bulan ke-10 setiap tahunnya.
Kini muncul tanda-tanda yang menunjukkan bahwa titik terendah harga sudah mulai terlihat di pasar.
Sejak awal Oktober, situasi mulai bergeser ke arah yang lebih menguntungkan bagi aset kripto dan aset berisiko lainnya. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve hingga tahun 2027 mulai mendingin, sehingga memperbesar peluang masuknya aliran modal baru ke pasar kripto.
Pada saat yang sama, para pelaku pasar mengharapkan kejelasan situasi politik domestik di Amerika Serikat setelah selesainya Pemilu Sela atau Midterm Elections. Pemilu ini merupakan pemilihan anggota kongres yang biasanya berdampak signifikan pada kebijakan ekonomi dan fiskal di Negeri Paman Sam. Berkurangnya ketidakpastian politik pascapemungutan suara diyakini dapat membantu investor dalam menilai kembali alokasi aset mereka pada instrumen digital.
Indikator cadangan Bitcoin di bursa menunjukkan tren penurunan yang cukup konsisten dalam beberapa waktu terakhir.
Suplai Bitcoin di platform pertukaran telah turun dari 2.726.000 unit pada 20 September menjadi 2.680.000 unit pada pekan ini. Penurunan sebesar 1,7 persen ini terjadi meskipun ada sedikit kenaikan aktivitas perdagangan dalam tujuh hari terakhir yang dipicu oleh fluktuasi harga harian.
Di sisi lain, jumlah kepemilikan oleh investor skala besar atau whale tetap bertahan di atas angka 3.000.000 BTC. Kelompok investor kakap ini terlihat enggan mengurangi eksposur mereka meskipun harga Bitcoin sempat terkoreksi dari USD 87.000 (sekitar Rp1,37 miliar) menjadi mendekati USD 80.000 (sekitar Rp1,26 miliar). Ketahanan ini menunjukkan kepercayaan yang kuat dari para pemilik modal besar terhadap prospek jangka panjang aset kripto nomor satu di dunia tersebut.
Metrik permintaan semu atau apparent demand yang membandingkan produksi Bitcoin baru dengan perubahan suplai dorman juga memberikan sinyal positif.
Metrik ini sempat berada di zona negatif sepanjang tahun 2026, dengan periode positif yang sangat singkat pada paruh kedua bulan Agustus. Meskipun sempat berada di bawah tekanan, tingkat permintaan kini telah pulih mendekati level netral pada pekan ini, yang mencerminkan adanya dukungan pembelian di pasar spot.
Kondisi untuk pembentukan harga dasar ini terus membaik, namun konfirmasi lebih lanjut masih membutuhkan aliran dana masuk yang berkelanjutan melalui produk ETF. Selain itu, diperlukan pemulihan permintaan yang lebih kuat dari pembeli di pasar spot Amerika Serikat untuk memastikan tren kenaikan harga dapat bertahan lama. Faktor-faktor pendukung tersebut menjadi kunci utama agar Bitcoin bisa benar-benar lepas dari tekanan zona merah.
Manajer aset kripto Bitwise menyatakan bahwa data onchain pada kuartal ketiga telah menunjukkan tanda-tanda musim semi kripto atau crypto spring.
Senada dengan hal tersebut, CEO CryptoQuant Ki Young Ju juga telah memproyeksikan dimulainya siklus pasar bullish baru sejak akhir Agustus lalu. Beliau bahkan menyatakan bahwa fase pasar bearish atau tren penurunan harga yang panjang sudah resmi berakhir, memberikan angin segar bagi para spekulan dan investor jangka panjang di seluruh dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor