Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson Berupaya Pertahankan Kursi Lewat Koalisi Kanan

Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson kembali menggalang dukungan politik untuk mengamankan periode jabatan kedua dalam pemerintahan mendatang.
Langkah ini menempatkan Kristersson dalam posisi dilematis karena ia harus mempertahankan kemitraan dengan partai sayap kanan, Sweden Democrats, demi menjaga stabilitas koalisi pemerintahannya. Hubungan ini menjadi sorotan karena sebelumnya ia sempat berjanji tidak akan bekerja sama dengan partai tersebut.
Pada tahun 2018, Kristersson secara terbuka berjanji kepada penyintas Holocaust, Hedi Fried, bahwa Partai Moderat tidak akan pernah menjalin kerja sama dengan Sweden Democrats. Saat itu, partai tersebut memang masih dipandang sebagai kelompok luar dalam peta politik Swedia yang cenderung mengedepankan kebijakan konservatif moderat.
Kini situasi berubah drastis setelah Sweden Democrats meraih suara signifikan dalam pemilu terakhir. Dukungan partai ini menjadi penentu bagi blok kanan untuk menguasai parlemen Swedia, yang dikenal dengan sebutan Riksdag.
Sistem parlementer Swedia menuntut koalisi yang solid untuk meloloskan anggaran dan kebijakan nasional. Tanpa dukungan Sweden Democrats, Kristersson akan kesulitan menjalankan roda pemerintahan karena perolehan kursi Partai Moderat sendiri tidak cukup dominan untuk memerintah sendirian.
Analisis politik menunjukkan bahwa ketergantungan ini memaksa Kristersson berkompromi pada banyak kebijakan krusial, mulai dari isu imigrasi hingga kebijakan kesejahteraan sosial. Banyak pengamat menilai ini sebagai pergeseran haluan besar bagi Partai Moderat yang selama puluhan tahun menjadi pilar utama politik kanan-tengah di negara Nordik tersebut.
Para pendukung kebijakan liberal merasa kecewa dengan keputusan tersebut. Mereka khawatir pengaruh partai sayap kanan akan mengikis nilai-nilai inklusivitas yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat Swedia.
Sebaliknya, pihak pendukung koalisi berpendapat bahwa kerja sama ini merupakan realitas politik yang harus diterima. Mereka menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah stabilitas ekonomi dan keamanan nasional di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Eropa Utara.
Konteks politik Swedia saat ini memang sedang mengalami polarisasi yang cukup tajam. Isu kriminalitas terkait geng narkoba dan tantangan integrasi sosial menjadi komoditas utama yang dimainkan oleh partai-partai sayap kanan untuk meraih simpati pemilih kelas menengah yang mulai merasa tidak aman.
Dukungan finansial yang dibutuhkan untuk menjalankan program pemerintah juga menjadi faktor lain dalam permainan politik ini. Anggaran nasional yang mencapai ratusan miliar krona Swedia (sepadan dengan triliunan rupiah) memerlukan kesepakatan lintas partai yang intensif di parlemen agar tidak terjadi kebuntuan politik.
Tantangan bagi Kristersson ke depan adalah menyeimbangkan janji masa lalunya dengan kebutuhan pragmatis di masa kini. Rakyat Swedia menanti apakah sang Perdana Menteri mampu memimpin tanpa mengorbankan integritas Partai Moderat sepenuhnya di hadapan para mitra koalisinya yang kontroversial.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)












