Kerugian bersih setelah penyesuaian mencapai USD 495,3 juta atau Rp7,6 triliun. Mayoritas kerugian atau sekitar 96 persen berasal dari eksploitasi teknis yang mengeksploitasi celah dalam protokol sistem.
Pihak Bitget menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada 24 September. Mereka mendeteksi adanya transfer tidak sah dari beberapa hot wallet, yaitu dompet kripto yang terhubung ke internet dan memungkinkan transaksi cepat, sehingga manajemen segera menangguhkan fitur penarikan dana.
Investigasi awal mengungkap adanya kerentanan pada produk keamanan pihak ketiga yang digunakan perusahaan. Peretas memanfaatkan celah tersebut untuk mendapatkan kredensial internal dan memalsukan perintah penarikan dana pengguna secara sistematis.
Kondisi ini memberikan peringatan bagi investor di Indonesia mengenai pentingnya aspek keamanan siber saat bertransaksi di bursa internasional. Penggunaan dompet fisik atau cold storage sering disarankan sebagai langkah mitigasi risiko saat menyimpan aset dalam jumlah besar.
Situasi ini memperlihatkan betapa cepatnya peretas beradaptasi dengan teknologi keamanan modern. Para pelaku industri kini dituntut memperketat protokol keamanan, terutama dalam integrasi perangkat lunak dari pihak ketiga yang sering menjadi pintu masuk serangan.