Langsung ke konten
beritana
Breaking

Perundingan AS-Iran Dimulai di Swiss di Tengah Isu Penutupan Selat Hormuz

Foto Beritana UpdateBeritana Update3 menit bacaWorld
US-Iran talks to begin in Switzerland as Tehran says it closed Strait of Hormuz
Foto: Pixabay

Perundingan AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss resmi dimulai di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pertemuan diplomatik ini tetap berjalan meskipun militer Iran sempat menyatakan telah kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon selatan.

Teheran beralasan penutupan jalur laut tersebut dipicu oleh pelanggaran kesepakatan penghentian perang yang sebelumnya telah disetujui bersama Washington. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital dunia yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar global. Namun, militer Amerika Serikat membantah klaim sepihak tersebut dengan menegaskan bahwa arus lalu lintas kapal di kawasan perairan itu masih berjalan normal.

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dilaporkan telah tiba di Swiss pada Minggu pagi untuk memimpin delegasi negaranya.

Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sudah mendarat lebih awal pada Sabtu malam. Upaya diplomasi ini juga melibatkan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif serta Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, sebagai mediator utama.

"Pakistan akan terus mendukung implementasi kesepakatan yang telah dicapai antara Iran dan Amerika Serikat," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Pakistan menjelang pertemuan.

Sebelum bertolak ke Swiss, Vance menyatakan harapannya agar pertemuan ini dapat menghasilkan kemajuan nyata terkait isu nuklir dan gencatan senjata di Lebanon. Ia menilai situasi di lapangan perlahan mulai membaik dan mereda meskipun bentrokan bersenjata antara Israel dan Hizbullah masih terus terjadi. Menurut dia, fokus utama saat ini menjaga agar wilayah perbatasan Israel dan Lebanon tetap aman.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa Teheran menuntut pihak Washington untuk memenuhi seluruh komitmen yang telah disepakati. Sebelumnya, presiden kedua negara telah menandatangani perjanjian awal untuk mengakhiri perang secara langsung, termasuk komitmen dialog lanjutan dalam waktu 60 hari ke depan.

Ketegangan di lapangan tetap tinggi seiring laporan Kementerian Kesehatan Lebanon yang menyebut sedikitnya 47 orang tewas akibat serangan udara Israel pada Sabtu lalu. Pasukan Pertahanan Israel menyatakan serangan tersebut menyasar 80 target yang berafiliasi dengan kelompok Hizbullah. Konflik ini kian membara sejak awal Maret dan telah merenggut lebih dari 4.000 nyawa di wilayah Lebanon.

Korps Pengawal Revolusi Islam Iran menuding serangan Israel tersebut melanggar komitmen gencatan senjata sehingga mereka memutuskan untuk menutup Selat Hormuz.

Juru bicara Komando Sentral Amerika Serikat, Tim Hawkins, segera membantah klaim penutupan jalur tersebut dan menyatakan militer AS terus mengawasi situasi agar pelayaran tetap aman. Data pelacakan independen menunjukkan sedikitnya lima kapal tanker minyak tetap melintas dengan aman di selat tersebut pada hari yang sama.

Selat Hormuz memegang peran sangat besar dalam stabilitas energi global karena mampu dilewati oleh kapal tanker pengangkut minyak mentah ukuran terbesar di dunia. Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat, sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini setiap hari pada tahun 2025. Nilai perdagangan energi yang melewati jalur sempit ini diperkirakan mencapai USD 600 miliar (sekitar Rp9.780 triliun) per tahun.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update