Prospek Cerah HRTA hingga 2026: Ditopang Bullion Banking dan Harga Emas Global

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), produsen perhiasan dan emas batangan, diproyeksikan mempertahankan momentum pertumbuhan bisnisnya hingga penghujung tahun 2026 di pasar domestik. Optimisme ini didasarkan pada sejumlah faktor strategis, termasuk ekspansi layanan bullion banking, tren harga emas global yang cenderung tinggi, serta penguatan kerja sama dengan entitas keuangan besar, yaitu PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Harry Su, Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia, mengidentifikasi ekspansi dalam segmen bullion banking sebagai pendorong utama bagi kinerja positif emiten berkode HRTA. Selain itu, kolaborasi berkelanjutan dengan Pegadaian dan BSI membuka peluang signifikan dalam peningkatan volume penjualan emas bagi perseroan.
"Prospek HRTA hingga akhir 2026 masih positif, didukung pertumbuhan bullion banking, kenaikan harga emas, serta kerja sama dengan Pegadaian dan BSI," ujar Harry kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Pada kuartal II 2026, kontribusi pendapatan HRTA dari Pegadaian tercatat mencapai Rp 8,4 triliun. Angka ini merepresentasikan lonjakan substansial sebesar 75,6% secara tahunan.
Pendapatan dari BSI juga menunjukkan peningkatan yang solid, naik 37,7% secara kuartalan menjadi Rp 3,3 triliun, dibandingkan Rp 2,4 triliun pada kuartal I 2026.
Secara agregat, gabungan kontribusi dari Pegadaian dan BSI terhadap total pendapatan HRTA pada kuartal II 2026 mencapai 85,8%. Persentase ini meningkat dari 76,7% pada periode kuartal sebelumnya, mengindikasikan semakin besarnya peran kedua mitra tersebut dalam struktur pendapatan perusahaan.
Konsep bullion banking memungkinkan HRTA tidak hanya berfungsi sebagai produsen, tetapi juga sebagai fasilitator perdagangan dan penyimpanan emas, serta penyedia layanan keuangan berbasis emas. Layanan ini strategis untuk menarik investor institusi dan individu yang mencari diversifikasi aset atau lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Tren harga emas dunia yang melonjak turut menjadi katalis positif bagi HRTA. Emas kerap dianggap sebagai aset safe haven di kala inflasi tinggi atau gejolak geopolitik, sehingga permintaan terhadap komoditas ini cenderung meningkat. Kondisi ini secara langsung dapat mengerek nilai persediaan emas yang dimiliki HRTA serta meningkatkan daya tarik produk-produk emas yang ditawarkannya.
Kerja sama dengan Pegadaian, sebagai lembaga keuangan non-bank terbesar di Indonesia yang fokus pada layanan pembiayaan berbasis gadai, dan BSI, bank syariah terbesar di Indonesia, memberikan HRTA akses ke jaringan distribusi yang sangat luas. Melalui kemitraan ini, produk emas HRTA dapat menjangkau konsumen yang lebih beragam di seluruh pelosok Indonesia, baik untuk tujuan investasi maupun keperluan konsumsi.
Harry Su menambahkan, potensi sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA) dapat menjadi katalis tambahan bagi HRTA. Standar LBMA merupakan pengakuan internasional atas kualitas, integritas, dan praktik pertambangan emas yang bertanggung jawab.
Sertifikasi ini akan meningkatkan kredibilitas HRTA di mata investor global dan membuka jalan bagi perusahaan untuk berpartisipasi dalam pasar emas internasional yang lebih luas. Hal tersebut sekaligus memperkuat posisi HRTA sebagai pemain penting dalam industri emas di kawasan.
Namun, di balik prospek positif ini, ia mengingatkan adanya beberapa risiko yang patut dicermati. Pertumbuhan laba perusahaan berpotensi melambat karena margin emas batangan yang relatif tipis, sebuah karakteristik umum dalam bisnis komoditas.
Selain itu, risiko lain meliputi koreksi harga emas, potensi ketergantungan yang tinggi pada Pegadaian dan BSI, kebutuhan modal kerja yang besar untuk menopang operasional bisnis emas, serta kenaikan biaya pendanaan di tengah suku bunga yang fluktuatif.
"Katalis positifnya berasal dari perluasan ekosistem bullion banking, tingginya permintaan emas, dan potensi sertifikasi LBMA. Risikonya meliputi koreksi harga emas, ketergantungan pada Pegadaian dan BSI, kebutuhan modal kerja besar, serta kenaikan biaya pendanaan," kata Harry.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Harry Su mempertahankan rekomendasi beli untuk saham HRTA. Target harga konsensus saham perusahaan diperkirakan berada di kisaran Rp 2.500 per saham.
Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan margin keuntungan, arus kas perusahaan, serta pergerakan harga emas global hingga akhir 2026. Hal ini untuk memastikan keputusan investasi yang lebih akurat dan terinformasi di tengah dinamika pasar yang ada.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor














