
Sentimen investor terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya menunjukkan perubahan arah yang drastis setelah sempat menguat di musim panas.
Indeks Fear and Greed yang mengukur selera risiko pelaku pasar kini merosot ke angka 56 pada Senin lalu, yang menunjukkan posisi netral. Angka ini turun jauh setelah sebelumnya mencapai zona keserakahan ekstrem pada akhir Agustus.
Fear and Greed Index merupakan instrumen pengukur sentimen pasar dengan rentang nilai 0 hingga 100. Angka 0 mencerminkan ketakutan ekstrem, sementara 100 menunjukkan keserakahan yang sangat tinggi di kalangan investor global.
Bitcoin kini diperdagangkan sedikit di atas level USD 82.000 atau setara dengan Rp1,27 miliar. Harga ini tercatat turun sekitar 5 persen dalam sepekan terakhir setelah sempat mencapai harga tertinggi tahun ini pada pertengahan Agustus.
Data menunjukkan Bitcoin pernah menyentuh harga USD 86.978 sebelum terperosok ke level USD 81.749 pada 8 Oktober lalu. Pergerakan harga yang fluktuatif ini membuat nilai aset kripto terbesar tersebut masih berada 34 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah menembus angka USD 126.000 pada Oktober 2025.
Tekanan pasar juga terlihat dari arus keluar dana pada produk investasi berbasis kripto. Dana investasi Spot Bitcoin ETF mencatatkan kerugian bersih sebesar USD 484,9 juta atau sekitar Rp7,5 triliun dalam satu hari pada Rabu pekan lalu.
Ethereum juga mengalami nasib serupa dengan arus keluar dana yang terus berlanjut selama sembilan hari berturut-turut. Total penarikan dana dari produk Ethereum mencapai USD 635 juta atau sekitar Rp9,8 triliun sepanjang bulan ini saja.
Gangguan ekonomi makro global menjadi faktor utama yang membebani performa pasar kripto saat ini. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga melampaui USD 101 per barel akibat konflik di sekitar Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi bagi konsumen global. Hal ini memaksa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, untuk tetap mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuannya.
Kondisi ini diperparah dengan imbal hasil obligasi 30 tahun Amerika Serikat yang mencapai 5,70 persen. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak tahun 2002 dan menarik minat investor untuk beralih dari aset berisiko menuju aset yang dianggap lebih aman.
Bitcoin yang tidak menghasilkan imbal hasil tetap secara alami tertekan oleh kondisi suku bunga tinggi. Para pedagang di pasar prediksi Myriad saat ini memperkirakan probabilitas sebesar 56 persen bahwa harga Bitcoin akan turun hingga ke kisaran USD 80.000 dalam waktu dekat.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor