
Sebuah kapal yang membawa puluhan migran karam di lepas pantai Djibouti, menewaskan sedikitnya 100 orang dalam salah satu insiden paling mematikan di rute pelayaran berbahaya menuju Yaman.
Organisasi Internasional untuk Migrasi atau IOM mengonfirmasi bahwa tim penyelamat telah menemukan jenazah 15 anak-anak di antara para korban jiwa. Hingga saat ini, puluhan orang lainnya masih dinyatakan hilang dan operasi pencarian terus dilakukan oleh otoritas setempat.
Peristiwa nahas ini terjadi di rute yang dikenal sebagai jalur migrasi laut paling berbahaya di dunia, di mana ribuan orang dari Tanduk Afrika mencoba menyeberang menuju negara-negara Teluk untuk mencari peluang kerja yang lebih baik.
Kondisi kapal yang sering kali melebihi kapasitas serta tidak layak melaut menjadi faktor utama tingginya angka kecelakaan di perairan sekitar Teluk Aden. Para migran biasanya menggunakan perahu kecil milik penyelundup manusia yang mengabaikan standar keselamatan demi keuntungan pribadi.
Yaman sering kali menjadi negara transit bagi migran yang ingin mencapai Arab Saudi dan negara-negara kaya minyak lainnya di Timur Tengah, meskipun mereka harus menghadapi konflik bersenjata yang berkepanjangan di negara tersebut.
Menurut data IOM, angka kematian dalam upaya migrasi melalui laut ini terus meningkat setiap tahunnya. Para migran rela menempuh risiko kematian di tengah laut demi melarikan diri dari kemiskinan ekstrem, kelaparan, dan konflik yang melanda negara asal mereka di wilayah Afrika Timur.
Pihak IOM telah menyatakan duka mendalam atas hilangnya nyawa para migran tersebut. Lembaga ini kembali mendesak negara-negara terkait untuk meningkatkan pengawasan keamanan di sepanjang jalur migrasi guna mencegah insiden serupa terulang kembali di masa depan.
Pemerintah Djibouti saat ini bekerja sama dengan berbagai organisasi kemanusiaan internasional untuk memberikan bantuan kepada para penyintas yang berhasil dievakuasi ke daratan. Meskipun bantuan medis telah disiagakan, tantangan besar tetap ada dalam menampung dan mengidentifikasi ratusan orang yang terdampak dalam tragedi kemanusiaan ini.
Situasi di wilayah tersebut mencerminkan krisis migrasi global yang kian kompleks. Perdebatan mengenai kebijakan perbatasan dan perlindungan hak asasi manusia bagi para pencari suaka atau migran ekonomi masih menjadi tantangan diplomatik besar di tingkat kawasan maupun internasional.
Publik internasional kini menanti langkah konkret dari otoritas terkait dalam mengusut tuntas jaringan penyelundup di balik pelayaran maut tersebut. Tanpa adanya tindakan hukum yang tegas serta solusi jangka panjang bagi masalah ekonomi di negara asal, rute maut ini diperkirakan akan terus memakan korban jiwa.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor