Langsung ke konten
beritana

Warga Swiss Menentukan Masa Depan Melalui Referendum Batas Maksimal Populasi 10 Juta Jiwa

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaWorld
Warga Swiss Menentukan Masa Depan Melalui Referendum Batas Maksimal Populasi 10 Juta Jiwa
No-campaign posters feature Donald Trump, Vladimir Putin and Xi Jinping, warning against "breaking with Europe"

Swiss akan menentukan nasib kebijakan kependudukan mereka pada hari Minggu mendatang melalui pemungutan suara nasional terkait proposal pembatasan populasi hingga maksimal 10 juta jiwa.

Usulan yang didorong oleh Partai Rakyat Swiss ini mengklaim langkah tersebut sebagai inisiatif keberlanjutan untuk mengurangi beban pada perumahan, layanan publik, dan lingkungan. Namun, banyak pihak menilai kebijakan ini sebagai taktik anti-imigrasi yang berisiko.

Pemerintah, pemimpin bisnis, dan serikat pekerja menentang keras gagasan ini karena dianggap sebagai inisiatif kekacauan. Mereka khawatir pembatasan tersebut akan memicu krisis tenaga kerja di sektor rumah sakit dan perhotelan, sekaligus mengisolasi Swiss dari hubungan ekonomi dengan Uni Eropa.

Sistem demokrasi langsung di Swiss memungkinkan warga menentukan kebijakan strategis hanya dengan mengumpulkan 100.000 tanda tangan untuk mengajukan referendum. Mekanisme ini sering kali memicu perdebatan sengit terkait isu kependudukan di tengah padatnya infrastruktur transportasi dan tingginya biaya hidup.

Data terbaru menunjukkan populasi Swiss kini mencapai 9,1 juta jiwa, meningkat tajam dari 7,3 juta jiwa pada tahun 2002. Sekitar 27 persen dari total penduduk tersebut merupakan warga negara asing yang menetap di sana.

Jajak pendapat menunjukkan hasil yang sangat ketat dengan 52 persen responden menyatakan penolakan, sementara 45 persen mendukung proposal tersebut. Sisanya masih bimbang, menjadikan suara pemilih yang belum menentukan pilihan sebagai penentu utama hasil referendum.

Jika disetujui, pemerintah diwajibkan mengambil tindakan ketika populasi menyentuh angka 9,5 juta. Langkah tersebut mencakup pembatasan suaka hingga penghentian hak reunifikasi keluarga bagi pekerja asing untuk memastikan target 10 juta jiwa tidak terlampaui sebelum tahun 2050.

Kondisi ini memicu alarm di kalangan pebisnis karena ancaman pemutusan perjanjian pergerakan bebas orang dengan Uni Eropa. Tanpa akses tersebut, ekonomi Swiss yang sangat bergantung pada pasar tunggal Eropa terancam mengalami stagnasi.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update