WHO Larang Penggunaan Obat Obesitas untuk Anak di Bawah Usia 10 Tahun

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO secara resmi mengeluarkan panduan terbaru yang melarang pemberian obat obesitas bagi anak yang berusia di bawah 10 tahun. Pedoman global ini muncul di tengah meningkatnya tren penggunaan suntikan penurun berat badan jenis GLP-1 seperti Mounjaro dan Wegovy di berbagai negara.
Larangan tersebut merupakan rekomendasi kuat untuk melindungi anak-anak dari paparan bahan kimia medis yang belum teruji sepenuhnya pada kelompok usia dini.
Sebagian besar obat penurun berat badan saat ini hanya memiliki izin penggunaan untuk remaja atau orang dewasa. Namun, WHO mencatat adanya praktik medis ketika dokter meresepkan obat tersebut di luar ketentuan label atau off-label. Bahkan, beberapa perusahaan farmasi dilaporkan mulai menguji coba obat ini pada anak-anak yang masih berusia enam tahun.
WHO menekankan bahwa perawatan utama bagi anak dengan obesitas harus berfokus pada pola makan sehat dan aktivitas fisik rutin. Intervensi medis seperti pemberian obat-obatan atau tindakan bedah tidak direkomendasikan untuk anak-anak kecil, meskipun lembaga ini tidak menentang dilakukannya uji klinis obat secara formal.
Penggunaan teknologi digital seperti pelacak aktivitas dan permainan daring yang mendorong anak bergerak dinilai bisa menjadi alat bantu yang berguna. Hal ini didasarkan pada bukti terbatas yang menunjukkan bahwa pendekatan interaktif lebih aman bagi perkembangan fisik dan mental anak dibandingkan intervensi kimiawi.
Data estimasi terkini menunjukkan bahwa sekitar 170 juta anak dan remaja di seluruh dunia menderita obesitas.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 juta penderita merupakan anak-anak yang berada dalam kelompok usia 5 sampai 9 tahun. Prevalensi obesitas pada kelompok usia ini telah meningkat empat kali lipat sejak tahun 1990, melonjak dari 2 persen menjadi 8 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran global mengenai krisis kesehatan jangka panjang pada generasi mendatang.
Pada tahun 2024, tercatat ada 35 juta anak di bawah usia lima tahun yang mengalami kelebihan berat badan. Obesitas pada usia dini secara signifikan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2 dan gangguan jantung.
Direktur Nutrisi dan Keamanan Pangan WHO, Dr Luz De Rigil, menegaskan bahwa lembaganya tidak merekomendasikan obat obesitas, bedah bariatrik, maupun perangkat manajemen berat badan lainnya untuk anak di bawah 10 tahun. Menurutnya, keputusan ini adalah langkah tegas yang harus dipatuhi oleh otoritas kesehatan di tiap negara.
Tindakan medis tersebut mungkin baru dianggap tepat untuk anak yang lebih tua atau remaja ketika pendekatan gaya hidup tidak membuahkan hasil. Syarat lainnya adalah sang anak harus sudah siap secara mental maupun fisik untuk menjalani perawatan medis yang intensif.
WHO mengakui bahwa bidang kedokteran ini terus berkembang pesat seiring munculnya inovasi farmasi baru. Lembaga kesehatan dunia tersebut akan terus mengevaluasi bukti-bukti klinis terbaru yang tersedia sebelum mengubah pedoman di masa depan.
Kepala Aksi Nutrisi dan Keamanan Pangan WHO, Laurence Grummer-Strawn, menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang penggunaan obat pada anak. Beliau mempertanyakan kapan penggunaan obat tersebut akan dihentikan jika anak-anak sudah mulai mengonsumsi suntikan GLP-1 sejak usia yang sangat dini.
Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menjamin bahwa obat penurun berat badan dapat digunakan sebagai terapi sementara sebelum beralih ke pola makan sehat nantinya. Pihak WHO menyatakan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan tanpa adanya bukti medis yang jelas dan kuat.
Risiko ketergantungan seumur hidup menjadi bayang-bayang yang menakutkan bagi para ahli kesehatan di tingkat global. Tanpa pengawasan ketat, anak-anak dikhawatirkan akan kehilangan kemampuan alami tubuh untuk mengatur metabolisme melalui gaya hidup sehat.
Tren penggunaan obat diet yang kian masif juga dipicu oleh promosi di media sosial yang sering kali mengabaikan aspek keamanan bagi anak kecil. Publik perlu memahami bahwa tubuh anak-anak masih dalam tahap pertumbuhan yang sangat menentukan, sehingga intervensi kimiawi dapat mengganggu keseimbangan hormon alami mereka.
Di Indonesia, angka obesitas pada anak juga terus menunjukkan tren kenaikan yang perlu diantisipasi oleh orang tua. Ketersediaan makanan olahan yang tinggi gula dan rendah nutrisi menjadi faktor pendorong utama meningkatnya bobot badan berlebih pada anak-anak di perkotaan.
Langkah pencegahan melalui edukasi gizi di sekolah dan lingkungan keluarga menjadi solusi yang lebih berkelanjutan dibandingkan bergantung pada bantuan medis. Pemerintah diharapkan dapat menyelaraskan kebijakan nasional dengan panduan terbaru dari WHO ini guna melindungi kesehatan anak Indonesia.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor













