
Pemerintah Slovakia secara resmi memulihkan hubungan diplomatik militer dengan Rusia untuk pertama kalinya sejak invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Langkah ini ditandai dengan pengiriman dua perwira militer senior, yaitu Brigadir Jenderal Slavomir Staviarsky dan Kolonel Ivo Gahir, ke Moskwa. Pihak Bratislava kini juga tengah bersiap menerima atase militer dari pihak Rusia untuk bertugas di ibu kota Slovakia.
Kebijakan ini memicu kritik keras dari kelompok oposisi yang khawatir bahwa kehadiran diplomat militer Rusia akan disalahgunakan untuk kegiatan intelijen. Sejumlah pengamat menilai, langkah pemerintah Slovakia berisiko merusak kepercayaan di antara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.
Keputusan tersebut muncul setelah Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Mei lalu. Dalam pertemuan di Kremlin itu, Fico menyatakan bahwa hubungan kedua negara seharusnya tidak terbatas pada pasokan energi semata.
Kini, susunan personel militer yang ditempatkan di Moskwa mulai terbentuk. Brigadir Jenderal Staviarsky dilaporkan telah berada di Rusia sejak awal Agustus, menurut keterangan penyiar publik STVR.
Di sisi lain, oposisi menyoroti sosok Maxim Verezan, perwira Rusia yang dikabarkan akan ditempatkan di Bratislava. Hingga saat ini, Kementerian Pertahanan Slovakia belum memberikan konfirmasi resmi mengenai jadwal kedatangan Verezan ke Slovakia.
Ketegangan ini membangkitkan kembali ingatan publik terhadap skandal mata-mata beberapa tahun lalu. Pada 2021, atase militer Rusia di Bratislava, Sergei Solomasov, sempat terekam kamera saat menyuap seorang kontributor media pro-Rusia bernama Bohus Garbar.
Solomasov akhirnya diusir dari Slovakia setahun setelah insiden tersebut terbongkar. Garbar sendiri kemudian divonis bersalah atas tindakan spionase dan penyuapan oleh pengadilan setempat.
Pemerintah Slovakia membela langkah pemulihan ini sebagai upaya strategis untuk memperoleh informasi intelijen yang akurat. Richard Gluck, ketua komite pertahanan dan keamanan parlemen dari partai Smer, berpendapat bahwa menghentikan kontak militer dengan Rusia merupakan kesalahan besar.
Ia membandingkan kebijakan Slovakia dengan negara lain yang tetap mempertahankan atase militer di Moskwa, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Menurutnya, Slovakia kehilangan banyak akses data berharga selama jeda hubungan tersebut.
Namun, mantan jenderal Slovakia yang pernah bertugas di struktur komando NATO, Pavel Macko, memiliki pandangan berbeda. Ia menganggap langkah pemerintah saat ini sangat berbahaya mengingat permusuhan Rusia yang terus berlanjut terhadap negara-negara Barat.
Macko mencatat, Rusia terus melancarkan aktivitas hibrida di Slovakia dan sekitarnya, termasuk upaya sabotase di beberapa negara Eropa. Ia khawatir kebijakan pro-Rusia dari pemerintah saat ini akan mengganggu koordinasi intelijen dengan sekutu Barat.
Sementara itu, politikus oposisi Martin Poliacik mencurigai ada agenda politik domestik di balik keputusan Robert Fico. Ia berpendapat, sang Perdana Menteri ingin membangun narasi sebagai pemimpin yang mengupayakan perdamaian menjelang pemilu mendatang.
Poliacik menegaskan bahwa meskipun Slovakia secara formal tetap memenuhi komitmen sebagai anggota NATO, tingkat kepercayaan politik terhadap mereka kini dipertanyakan. Bagi para sekutu, konsistensi tindakan jauh lebih penting daripada sekadar kepatuhan administratif dalam aliansi militer.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor