
Bitcoin diprediksi akan menjadi aset yang jauh lebih stabil dan melampaui total nilai pasar emas di masa depan.
Penulis buku The Bitcoin Standard, Saifedean Ammous, menilai bahwa volatilitas kripto utama ini akan terus menurun seiring dengan kedewasaan pasar. Dia mengemukakan argumen tersebut melalui akun media sosial pribadinya baru-baru ini.
Menurutnya, fungsi Bitcoin sebagai alat penyimpan nilai sudah menjadikannya sebagai uang yang sah meskipun belum digunakan secara luas untuk pembayaran harian. Penggunaan Bitcoin sebagai aset cadangan dianggap sebagai langkah awal dalam proses monetisasi global yang sedang berlangsung saat ini. Ammous menegaskan bahwa kepemilikan aset tersebut sudah merupakan bentuk penggunaan fungsi uang secara nyata.
Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan terhadap kritik Profesor Lawrence H. White dalam bukunya yang berjudul Better Money: Gold, Fiat, or Bitcoin?
White berpendapat bahwa pasokan Bitcoin yang tetap membuat harganya terlalu fluktuatif untuk menjadi alat tukar yang handal bagi masyarakat umum. Keterbatasan mekanisme pasokan tersebut dianggap sebagai kelemahan mendasar dalam menghadapi perubahan permintaan pasar yang dinamis.
Dia menjelaskan bahwa ketidakmampuan pasokan untuk merespons ayunan permintaan membuat harga BTC menjadi terlalu tidak menentu bagi orang yang menginginkan media pertukaran yang stabil. Hal tersebut dinilai menjadi alasan mengapa volume transaksi koin stabil atau stablecoin jauh lebih mendominasi dibandingkan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi digital. Stablecoin merupakan aset kripto yang nilainya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS agar harganya tetap terjaga.
Ammous tetap pada pendiriannya bahwa menyimpan Bitcoin tetap dihitung sebagai aktivitas menggunakan aset tersebut sebagai uang.
Bitcoin saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 1,6 triliun (sekitar Rp25.920 triliun) berdasarkan data harga pasar terkini. Untuk bisa melampaui emas yang memiliki nilai pasar hampir USD 29 triliun (sekitar Rp469.800 triliun), harga Bitcoin harus tumbuh setidaknya 18 kali lipat dari posisi sekarang.
Target angka tersebut memang terlihat sangat besar, namun para pengamat industri kripto optimis bahwa pergeseran paradigma keuangan sedang terjadi secara perlahan. Keyakinan ini didasarkan pada terbatasnya jumlah Bitcoin yang hanya akan ada 21 juta keping di seluruh dunia. Sifat kelangkaan ini sering kali dibandingkan dengan logam mulia emas yang sudah ribuan tahun menjadi standar kekayaan manusia.
Kepala riset Bitwise untuk wilayah Eropa, André Dragosch, memproyeksikan harga Bitcoin bisa menyentuh angka USD 1 juta (sekitar Rp16,2 miliar) pada tahun 2029 mendatang.
Nilai tersebut secara otomatis akan membuat total kapitalisasi pasar Bitcoin setara dengan emas dalam beberapa tahun ke depan. Bitwise sendiri merupakan perusahaan manajemen aset kripto asal Amerika Serikat yang mengelola berbagai produk investasi berbasis digital bagi investor institusi.
Adam Back, CEO Blockstream, juga memiliki pandangan serupa mengenai potensi jangka panjang Bitcoin sebagai pelindung nilai terhadap ketidakstabilan sistem keuangan global. Dia memprediksi bahwa Bitcoin akan mulai menyaingi peran emas sebagai instrumen lindung nilai moneter dalam waktu dekat. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya inflasi mata uang fiat dan kondisi geopolitik dunia yang sering kali tidak menentu.
Inflasi mata uang fiat yang terus meningkat di berbagai negara memaksa investor untuk mencari alternatif aset yang memiliki integritas tinggi.
Kondisi ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian ini mempercepat adopsi Bitcoin sebagai emas digital yang lebih mudah dipindahkan dan diverifikasi keasliannya dibandingkan emas fisik. Ketertarikan institusi besar terhadap Bitcoin semakin terlihat sejak peluncuran dana pertukaran bursa atau ETF Bitcoin spot di pasar Amerika Serikat awal tahun ini.
Meskipun perdebatan mengenai fungsi ideal Bitcoin terus berlanjut, data menunjukkan bahwa minat terhadap aset ini tidak hanya datang dari spekulan ritel. Transisi dari sekadar aset spekulatif menjadi alat moneter yang stabil memerlukan waktu yang tidak sebentar dan dukungan infrastruktur yang kuat. Para ahli sepakat bahwa perjalanan Bitcoin untuk menandingi emas masih sangat panjang dan penuh dengan tantangan regulasi.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor