Skandal Diesel Rusia: Trump Dikritik, Nasib Ukraina Terancam

Keputusan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengizinkan pembelian solar (diesel) dari Rusia telah memicu gelombang kritik, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional. Langkah ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai motif di baliknya dan arah kebijakan AS terhadap Ukraina pasca-kesepakatan tersebut.
Kesepakatan yang memungkinkan Moskow memasok bahan bakar solar ke pasar global ini dilaporkan muncul sebagai respons atas dugaan kegagalan Kyiv dalam mematuhi tuntutan Washington untuk menghentikan serangan terhadap kilang minyak di wilayah Rusia. Trump sendiri bahkan secara terbuka menyatakan bahwa sudah waktunya bagi Ukraina untuk memiliki presiden yang baru.
Pengumuman kesepakatan solar ini terjadi di tengah berlangsungnya pembicaraan antara perwakilan Ukraina, AS, dan negara-negara Eropa di Miami. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyuarakan kekecewaannya, menyebut keputusan Trump sebagai tindakan yang tidak adil dan merupakan keputusan lemah dari mitra yang seharusnya kuat.
Ini bukan pertama kalinya Kyiv menghadapi situasi krisis dalam hubungannya dengan pemerintahan Trump. Pada Februari 2025, Trump pernah menyatakan kepada Zelenskyy di Oval Office bahwa Ukraina tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Krisis ini kemudian diikuti dengan penangguhan pengiriman senjata dan perjanjian berbagi intelijen.
Laporan media menyebutkan bahwa utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengancam akan menangguhkan berbagi intelijen dalam pertemuan di Miami, dengan alasan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Namun, pejabat AS sendiri membantah laporan tersebut.
Mykhailo Honchar dari Ukrainian Center for Global Studies "Strategy XXI" menilai ketegangan saat ini mengingatkan pada perselisihan di Gedung Putih kala itu. Meski begitu, ia meyakinkan bahwa tidak ada alasan bagi warga Ukraina untuk panik.
Honchar menambahkan, ancaman dan penangguhan berbagi intelijen serta gangguan pasokan senjata juga pernah terjadi tahun lalu. Namun, Amerika kemudian menyadari bahwa tindakan tersebut justru merugikan mereka juga, sehingga terpaksa memulihkan segalanya meski dengan enggan.
Para ahli yang diwawancarai oleh DW sepakat melihat korelasi antara ancaman Trump terhadap Ukraina dan pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 3 November. Pada pemilihan tersebut, seluruh kursi Dewan Perwakilan Rakyat dan sekitar sepertiga kursi Senat akan diperebutkan.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor

















