Mayoritas Masyarakat Amerika Serikat Menolak Praktik Taruhan Pemilu

Sebagian besar warga Amerika Serikat menyatakan penolakan terhadap tren penggunaan pasar prediksi untuk melakukan taruhan pada hasil pemilihan umum maupun kebijakan pemerintah.
Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis Reuters dan Ipsos menunjukkan sentimen negatif publik terhadap fenomena ini. Data tersebut diambil dari survei nasional yang melibatkan 4.506 orang dewasa sepanjang periode 30 September hingga 5 Oktober.
Industri pasar prediksi, yang kini dipimpin oleh platform seperti Polymarket dan Kalshi, memungkinkan masyarakat menaruh uang pada berbagai hasil pemilu, pergeseran kebijakan publik, hingga ajang olahraga. Perkembangan ini memicu rangkaian gugatan hukum yang melibatkan badan pemerintah negara bagian dan federal terkait siapa pihak yang berwenang melakukan pengawasan atau regulasi.
Survei tersebut mencatat bahwa 69 persen responden dari Partai Demokrat dan 61 persen dari Partai Republik menentang penggunaan pasar prediksi untuk taruhan pemilu. Perbedaan afiliasi politik tidak mengubah fakta bahwa mayoritas masyarakat Amerika Serikat merasa tidak nyaman dengan komersialisasi proses demokrasi mereka.
Ketidakpastian regulasi kini menjadi pusat perdebatan hukum di Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump saat ini berupaya menetapkan aturan federal melalui Commodity Futures Trading Commission (CFTC), sebuah lembaga independen pemerintah yang mengatur pasar derivatif atau kontrak berjangka.
Upaya regulasi tersebut menghadapi tantangan serius dari berbagai negara bagian di pengadilan. Banyak ahli hukum memprediksi perselisihan kewenangan ini akan berujung di Mahkamah Agung Amerika Serikat.
Sebanyak 39 negara bagian dan District of Columbia bahkan telah mengajukan dokumen amicus brief untuk mendukung posisi mereka dalam kasus di New Jersey. Mereka berpendapat bahwa konflik antara otoritas federal dan negara bagian telah menciptakan perang perebutan kekuasaan yang harus diselesaikan oleh pengadilan tertinggi.
Minat masyarakat terhadap taruhan jenis lain pun tergolong rendah dibandingkan dengan skeptisisme mereka terhadap politik. Data polling menunjukkan bahwa 43 persen responden menolak taruhan pada olahraga profesional, sementara hanya 29 persen yang memberikan dukungan.
Pasar prediksi sering kali menggunakan teknologi blockchain untuk memfasilitasi transaksi taruhan secara transparan. Teknologi ini memungkinkan taruhan dilakukan dalam bentuk aset kripto, yang sering kali berada di wilayah abu-abu regulasi keuangan internasional.
Tekanan dari publik yang tercermin dalam jajak pendapat ini berpotensi memperkuat posisi negara bagian dalam menekan pelaku industri pasar prediksi. Keberadaan platform ini kini berada di bawah pengawasan ketat, terutama saat proses demokrasi sedang berlangsung di Amerika Serikat.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor











