Petrobras Manfaatkan Blockchain Cardano untuk Lacak Bahan Bakar Berkelanjutan

Perusahaan energi raksasa asal Brasil, Petrobras, kini mulai mengintegrasikan teknologi blockchain Cardano untuk melacak data keberlanjutan produk bahan bakar mereka. Langkah strategis ini difokuskan pada pemantauan sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan serta bahan bakar diesel terbarukan, Diesel R.
Kolaborasi ini melibatkan Cardano Foundation dan Ledger Labs dari PUC-Rio, sebuah lembaga riset terkemuka di Brasil. Mereka mengembangkan sistem berbasis token digital untuk memastikan transparansi dalam klaim lingkungan yang menyertai distribusi bahan bakar tersebut.
Aplikasi pertama yang dikembangkan menggunakan model Book-and-Claim, sebuah metode yang memungkinkan manfaat lingkungan dari bahan bakar dipisahkan dari produk fisiknya. Hal ini memungkinkan maskapai penerbangan atau pelanggan korporat untuk mengklaim jejak emisi yang lebih rendah meskipun bahan bakar fisik mungkin digunakan di lokasi geografis berbeda.
Data yang tersimpan dalam token digital yang disebut CS-SAF ini telah disesuaikan dengan standar Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA). Standar internasional ini dirancang khusus untuk membatasi emisi karbon di sektor penerbangan global agar tetap sejalan dengan target iklim dunia.
Bahkan, penumpang pesawat kini memiliki opsi untuk mengklaim token CS-SAF tersebut secara mandiri melalui aplikasi khusus. Mereka akan menerima sertifikat digital yang mencatat kontribusi perjalanan mereka terhadap upaya pengurangan emisi karbon melalui penggunaan bahan bakar berkelanjutan.
Aplikasi kedua yang diluncurkan oleh Petrobras berfungsi sebagai pos pemeriksaan digital untuk melacak rantai produksi dan transportasi Diesel R. Sistem ini dinilai mampu membantu perusahaan dalam menyusun laporan emisi tidak langsung atau yang sering disebut sebagai Scope 3, yakni emisi yang dihasilkan dari seluruh rantai nilai operasional sebuah perusahaan.
Proyek blockchain ini merupakan kelanjutan dari kemitraan yang dimulai sejak 2023. Awalnya, kerjasama tersebut berfokus pada edukasi teknologi blockchain bagi karyawan Petrobras, sebelum akhirnya meluas ke ranah riset energi yang lebih teknis pada awal 2025.
Meskipun teknologi ini menjanjikan, Cardano Foundation belum merilis detail mengenai volume bahan bakar yang sudah terdata maupun jadwal penerapan sistem ini secara lebih luas di pasar global. Belum ada angka pasti mengenai seberapa besar efisiensi biaya yang dihasilkan dari penggunaan sistem buku besar terdistribusi ini.
Penggunaan blockchain di sektor bahan bakar memang bukan hal baru bagi perusahaan energi dunia. Sebelumnya, perusahaan minyak global Shell telah mengimplementasikan platform serupa bernama Avelia sejak 2022 untuk melacak klaim lingkungan SAF guna mencegah penghitungan ganda atas manfaat pengurangan karbon.
Data dari Shell menunjukkan bahwa melalui platform tersebut, lebih dari 84 juta galon bahan bakar berkelanjutan telah masuk ke jaringan distribusi global. Angka tersebut setara dengan pengurangan lebih dari 780.000 ton emisi setara CO2 hingga pertengahan 2026 mendatang.
Di belahan dunia lain, inovasi serupa juga mulai mendapat perhatian dari pelaku industri energi. Perusahaan asal Australia, Viva Energy, baru-baru ini menjalin kesepakatan riset dengan NoviqTech untuk mengeksplorasi sistem Book-and-Claim berbasis blockchain dalam pelaporan emisi yang lebih transparan dan akuntabel.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363256/original/065722700_1790847152-ronaldo_2.jpg)











