Harga Bitcoin Menguat Pasca Data Inflasi AS, Yield Obligasi Tembus Rekor

Harga Bitcoin menunjukkan ketenangan di tengah gejolak pasar keuangan global setelah rilis data inflasi Amerika Serikat terbaru. Aset kripto ini sempat menyentuh level tertinggi di angka USD 85.598,94 (sekitar Rp1,34 miliar) sebelum kembali terkoreksi tipis ke kisaran USD 84.376,09 (sekitar Rp1,32 miliar).
Indikator inflasi pilihan Federal Reserve, yaitu indeks PCE, tercatat naik 0,3 persen pada Agustus atau 3,4 persen secara tahunan. Capaian ini berada di bawah ekspektasi ekonom yang sebelumnya memprediksi angka 0,4 persen dan 3,7 persen.
Core PCE yang tidak menyertakan harga pangan dan energi yang fluktuatif juga mencatatkan kenaikan lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini membuat pasar berspekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober mendatang.
CME FedWatch tool kini menunjukkan probabilitas 62 persen bagi bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga. Sementara itu, peluang kenaikan sebesar 25 basis poin berada di angka 37 persen saja.
Sentimen penurunan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti kripto karena meningkatkan likuiditas pasar. Sebaliknya, suku bunga tinggi cenderung memperkuat nilai tukar dolar AS dan memberikan imbal hasil lebih menarik pada instrumen obligasi pemerintah.
Meski data inflasi tergolong dingin, angka inti inflasi sebesar 3,0 persen masih berada jauh di atas target jangka panjang Federal Reserve sebesar 2 persen. Tantangan lain datang dari pasar obligasi di mana imbal hasil Treasury tenor 10 tahun mencapai 5,25 persen, rekor tertinggi sejak tahun 2002.
Di sisi lain, pasar ekuitas Wall Street tampak lesu dengan penurunan tipis pada indeks S&P 500 dan Dow Jones. Konflik Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu pengiriman minyak di Selat Hormuz juga turut menambah beban psikologis bagi para pelaku pasar global.
Secara teknikal, Bitcoin saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi setelah reli vertikal yang dimulai sejak pertengahan September. Indikator Average Directional Index (ADX) di angka 41,9 menunjukkan tren yang kuat, namun harga masih tertahan di bawah level psikologis USD 85.600.
Para pedagang kini mencermati pergerakan harga harian dengan harapan penutupan di atas level USD 87.354 untuk memastikan kelanjutan tren bullish. Meskipun momentum beli masih terjaga, pelaku pasar tetap bersikap hati-hati mengingat sejarah pergerakan harga yang sering melakukan koreksi sebelum melompat ke level lebih tinggi.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363256/original/065722700_1790847152-ronaldo_2.jpg)











