Isyarat Bahaya dari China Mengancam Likuiditas Global dan Harga Bitcoin

Penurunan indikator ekonomi China kini mengirimkan sinyal waspada bagi pergerakan likuiditas global yang biasa menyokong aset berisiko. Kendati indikator tersebut menunjukkan tren kontraksi, harga bitcoin terpantau masih bergerak stabil dan cenderung mengabaikan sentimen negatif tersebut.
Indikator yang dikenal sebagai impuls kredit China ini sekarang berada di zona merah, menandakan perlambatan laju penyaluran pinjaman baru di negara berkekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.
Secara historis, impuls kredit mengukur tingkat perubahan utang baru sektor swasta terhadap produk domestik bruto suatu negara. Ketika angka ini menyusut, likuiditas di pasar keuangan internasional biasanya akan mengetat dalam beberapa bulan berikutnya. Pengetatan ini berpotensi menekan kinerja pasar saham global serta instrumen spekulatif lainnya.
Data terbaru menunjukkan bahwa bank sentral China, People's Bank of China, mulai membatasi stimulus moneter untuk mengendalikan tumpukan utang domestik. Kebijakan ini diambil di tengah upaya keras Beijing untuk memulihkan sektor properti yang masih lesu.
Para pelaku pasar aset digital awalnya khawatir kondisi ini akan langsung memicu aksi jual besar-besaran.
Namun, harga bitcoin justru menunjukkan ketangguhan dengan bertahan di kisaran level psikologis yang kuat. Analis menilai ketahanan ini disebabkan oleh arus masuk modal dari bursa berjangka Amerika Serikat yang masih mengalir deras. Selain itu, adopsi institusional melalui dana valuta asing atau ETF bitcoin spot di berbagai negara turut menahan kejatuhan harga.
Dampak dari perlambatan kredit di China ini diproyeksikan tidak hanya menyasar pasar kripto, melainkan juga bursa saham negara berkembang termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia berpotensi mengalami tekanan jika aliran modal asing memutuskan untuk keluar dari pasar Asia.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi mencatat jumlah investor kripto di dalam negeri telah menembus angka 20 juta orang pada tahun ini.
Jumlah investor yang besar tersebut membuat pasar domestik sangat sensitif terhadap perubahan dinamika moneter global. Penurunan likuiditas dari China dapat mengurangi minat risiko investor ritel lokal yang mengincar keuntungan cepat di pasar aset digital. Oleh karena itu, pergerakan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat kini menjadi jangkar harapan baru bagi para pelaku pasar.
Situasi anomali ini diperkirakan tidak akan bertahan lama apabila tekanan ekonomi di Beijing semakin memburuk. Koreksi pasar yang tertunda sering kali terjadi sebelum akhirnya harga aset menyesuaikan diri dengan realitas likuiditas yang sebenarnya.
"Pasar saat ini sedang menguji kekuatan fundamental kripto di luar faktor makroekonomi tradisional," ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa korelasi antara kebijakan moneter China dan aset kripto memang mengalami pergeseran sejak negara tersebut melarang aktivitas penambangan digital beberapa tahun lalu. Kendati demikian, pasokan likuiditas dari raksasa ekonomi Asia tersebut tetap memiliki pengaruh tidak langsung yang signifikan melalui jalur perdagangan komoditas. Penurunan aktivitas industri di China dipastikan akan menekan harga komoditas global, yang pada gilirannya memengaruhi pendapatan emiten di bursa saham Indonesia.
Para manajer investasi kini menyarankan agar investor lokal mulai melakukan diversifikasi portofolio secara ketat. Langkah antisipasi ini dinilai rasional untuk meminimalkan potensi kerugian akibat volatilitas tinggi yang membayang di sisa kuartal tahun ini.
Bagaimanapun, ketangguhan bitcoin saat ini tetap menjadi fenomena menarik yang terus dipantau oleh para pelaku industri keuangan dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor









