Langsung ke konten
beritana

Ancaman El Nino Kuat di Akhir 2026: Kenali Indikatornya

Foto Beritana UpdateBeritana Update4 menit bacaNews
El Nino Kuat Berpotensi Terjadi di Akhir 2026, Ini Tanda-tandanya
Foto: Arsip BMKG

Wacana mengenai potensi kembalinya fenomena iklim El Niño dengan intensitas kuat menjelang akhir tahun 2026 kini menjadi sorotan utama. Berbagai pakar iklim dan oseanografi telah menunjukkan serangkaian indikator yang mengarah pada perkembangan signifikan fenomena ini, yang berpotensi membawa dampak besar, khususnya bagi Indonesia. Pemahaman mendalam tentang tanda-tanda awal dan interaksi kompleks sistem iklim global menjadi kunci untuk mitigasi yang efektif.

Pergeseran kondisi laut di Samudra Pasifik menjadi petunjuk utama dari perkembangan El Niño. Profesor R. Dwi Susanto dari University of Maryland mengungkapkan, "Berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah pada pembentukan El Niño. Salah satu indikator utama adalah meningkatnya cadangan panas di bawah permukaan laut Pasifik yang berpotensi mendorong perpindahan massa air hangat ke arah timur." Akumulasi panas di lapisan bawah permukaan laut ini merupakan fondasi bagi terciptanya kondisi El Niño.

Lebih lanjut, Profesor Dwi Susanto menjelaskan bahwa "Data observasi dan model menunjukkan adanya akumulasi panas di bawah permukaan Samudra Pasifik. Bersamaan dengan itu, gelombang Kelvin mulai mendorong massa air hangat dari Pasifik barat menuju Pasifik timur, yang merupakan salah satu ciri perkembangan El Niño." Gelombang Kelvin ini berperan vital dalam distribusi massa air hangat di Pasudra Pasifik, memicu perubahan pola iklim secara global. Pengamatan terhadap suhu bawah permukaan laut, tinggi muka laut, serta pola angin di kawasan tropis Pasifik menjadi metode penting untuk memantau perubahan ini, di mana model prediksi iklim internasional juga turut mengonfirmasi kecenderungan serupa.

Indonesia menempati posisi yang sangat strategis dalam sistem iklim dunia. Profesor Dwi Susanto menyoroti bahwa Indonesia berada di kawasan yang dikenal sebagai western Pacific warm pool, yaitu area dengan suhu permukaan laut tropis terhangat di seluruh dunia. Selain itu, Indonesia juga menjadi jalur Arus Lintas Indonesia atau Indonesian Throughflow (Arlindo), yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Oleh karena itu, perubahan sekecil apa pun di perairan Indonesia dapat berfungsi sebagai indikator penting untuk memahami dinamika perkembangan El Niño dan dampaknya.

Untuk mendeteksi perubahan iklim sejak dini, pemantauan intensif terhadap suhu laut, dinamika Arlindo, dan pergeseran pusat konveksi atmosfer di kawasan maritim Indonesia menjadi sangat krusial. Namun, dampaknya terhadap Indonesia tidak hanya semata-mata ditentukan oleh kondisi di Samudra Pasifik. Interaksi dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia turut memainkan peran besar dalam menentukan seberapa parah dampak yang akan dirasakan.

Profesor Dwi Susanto menekankan pentingnya tidak hanya terpaku pada indeks El Niño. "Kita tidak bisa hanya melihat indeks El Niño. Kondisi Indian Ocean Dipole juga harus dipantau karena kombinasi keduanya dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu fenomena yang terjadi," ujarnya. Ia mencontohkan peristiwa El Niño kuat pada tahun 1997-1998 yang bertepatan dengan IOD positif. Kombinasi mematikan ini kala itu menyebabkan penurunan curah hujan yang sangat signifikan, memicu kekeringan parah, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah di Indonesia.

Perkembangan IOD positif dapat diamati melalui perubahan suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa dan Sumatra. Pendinginan yang semakin kuat di area tersebut umumnya berkorelasi dengan peningkatan risiko kekeringan. Mengingat sebagian besar model prediksi saat ini menunjukkan probabilitas tinggi bagi El Niño untuk berkembang menjadi kategori kuat bahkan sangat kuat pada akhir 2026, langkah-langkah mitigasi harus segera dipersiapkan secara komprehensif.

Pemerintah dan masyarakat perlu mengambil tindakan antisipatif. Ini termasuk pengelolaan sumber daya air yang lebih baik, penyesuaian pola tanam agar sesuai dengan kondisi iklim yang diprediksi, serta penguatan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Profesor Dwi Susanto juga mengingatkan bahwa "Persiapan harus dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan. Yang penting adalah memastikan informasi iklim dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi." Dengan persiapan yang matang dan pemanfaatan informasi iklim secara bijak, Indonesia dapat meminimalisir risiko dan dampak negatif dari potensi El Niño kuat di masa mendatang.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update