GEMA DESA 2026 Resmi Dibuka di Candi Sukuh, Perkuat Kolaborasi untuk Mewujudkan Desa Tangguh Budaya dan Berdaya Saing

Karanganyar – Gerakan Membangun Desa dengan Kolaborasi Octahelix (GEMA DESA) Tahun 2026 resmi dibuka di Pendopo Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung hingga 26 Juni 2026 tersebut menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong pembangunan desa yang tangguh, berbudaya, dan berkelanjutan.
Hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Drs. Andrey Ikhsan Lubis, M.Si., Direktur Perencanaan Teknis Pembangunan Desa dan Perdesaan Kementerian Desa dan PDT Suherman, S.IP., M.Si.
Juga hadir Bupati Karanganyar H. Rober Christanto, S.E., M.M., Sekretaris Daerah Kabupaten Karanganyar Kurniadi Maulato, S.Sos., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar Hendro Prayitno, S.H., M.M., Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Karanganyar Heru Joko Sulistyono, S.S.T.P., M.Si., serta sejumlah tokoh masyarakat, pegiat budaya, dan peserta dari berbagai daerah.
Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan Kementerian Desa dan PDT, Andrey Ikhsan Lubis, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa desa merupakan fondasi penting pembangunan nasional yang memiliki kekuatan sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan yang perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak.
Menurutnya, penguatan identitas budaya desa menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlanjutan pembangunan sekaligus meningkatkan daya saing desa di tengah perkembangan zaman.
“Desa merupakan ruang hidup yang menyimpan kekuatan sosial, budaya, ekonomi, dan ekologi yang sangat besar untuk masa depan Indonesia. Melalui kegiatan ini, kami berharap tumbuh semangat kolektif untuk membangun desa secara berkelanjutan dan berbasis potensi lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan kolaboratif melalui model octahelix diharapkan mampu mempercepat terwujudnya desa yang maju, mandiri, dan sejahtera tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal yang dimiliki.
Sementara itu, Bupati Karanganyar H. Rober Christanto, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Kabupaten Karanganyar sebagai lokasi penyelenggaraan GEMA DESA 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam mengembangkan potensi desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bupati mengatakan Kabupaten Karanganyar memiliki beragam potensi yang dapat terus dikembangkan, mulai dari sektor pariwisata, budaya, hingga ekonomi kreatif yang berbasis pada kekuatan dan keunggulan lokal masing-masing desa.
“Karanganyar memiliki potensi yang luar biasa, termasuk wisata religi yang dapat terus dikembangkan. Melalui semangat Sesarengan Mbangun Karanganyar, kami berharap seluruh pihak dapat bersama-sama mengoptimalkan potensi desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Rangkaian kegiatan GEMA DESA 2026 diawali dengan Workshop Preservasi dan Resiliensi Adat Istiadat serta Nilai-Nilai Budaya Lokal Desa. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Karanganyar, serta pegiat adat dan budaya.
Workshop tersebut bertujuan memperkuat upaya pelestarian adat istiadat, budaya lokal, dan kearifan tradisional sebagai modal sosial dalam pembangunan desa.
Melalui diskusi dan pertukaran gagasan, para peserta diharapkan mampu merumuskan langkah-langkah strategis dalam menjaga ketahanan budaya sekaligus meningkatkan kemampuan desa beradaptasi terhadap berbagai perubahan.
Selama empat hari pelaksanaan, GEMA DESA 2026 akan menghadirkan berbagai kegiatan yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat desa, pelestarian budaya, serta pengembangan kolaborasi lintas sektor. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi pembangunan desa berbasis potensi lokal guna mendukung terwujudnya pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Baca juga tulisan lainnya dari Zayyan GA
Penulis: Zayyan GA
Editor: Beritana Editor











