JPMorgan Proyeksikan Bitcoin Jadi Aset dengan Imbal Hasil Tertinggi dalam Dekade

JPMorgan Asset Management baru saja merilis laporan Long-Term Capital Market Assumptions edisi ke-31 yang menjadi panduan utama bagi para manajer investasi institusi global dalam menentukan alokasi aset mereka.
Secara mengejutkan, Bitcoin menempati posisi puncak dalam daftar proyeksi imbal hasil tahunan selama satu dekade ke depan di antara tiga belas kelas aset yang dianalisis.
Lembaga keuangan raksasa tersebut memperkirakan Bitcoin mampu mencatatkan pertumbuhan rata-rata sebesar 10 persen per tahun untuk rentang waktu 10 hingga 15 tahun ke depan.
Sebagai perbandingan, aset seperti REITs atau dana investasi real estat diproyeksikan memberikan imbal hasil sebesar 8,2 persen, sementara saham perusahaan kecil atau small caps berada di angka 7,7 persen dan saham perusahaan besar Amerika Serikat di 7,5 persen. Emas sendiri hanya ditempatkan pada angka 5,5 persen dalam laporan tersebut.
Kehadiran Bitcoin dalam laporan ini menandai babak baru bagi institusi keuangan formal. Selama tiga puluh edisi sebelumnya, mata uang kripto ini tidak pernah masuk dalam model perhitungan resmi, sehingga para konsultan dana pensiun maupun penasihat investasi terdaftar (RIA) kini memiliki acuan resmi untuk memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio klien mereka.
Pihak JPMorgan mencatat bahwa imbal hasil majemuk 10 persen tersebut datang dengan volatilitas tahunan mencapai 55 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan saham yang berada di kisaran 18 persen. Hal ini menunjukkan bahwa investor harus siap menghadapi fluktuasi harga yang sangat tajam untuk mendapatkan imbal hasil tersebut.
Analis melihat bahwa pergeseran narasi ini cukup menarik karena JPMorgan secara terang-terangan menepis argumen mengenai Bitcoin sebagai alat pelindung nilai dari penurunan nilai mata uang fiat, sebuah posisi yang selama ini sering disematkan pada emas.
Dalam laporan tersebut, emas justru ditempatkan di posisi bawah, menegaskan bahwa Bitcoin kini dikategorikan sebagai aset pertumbuhan yang setara dengan saham daripada sekadar aset lindung nilai.
Keputusan bank untuk tetap menempatkan Bitcoin di puncak, bahkan ketika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun sedang berada di atas 5 persen, menjadi sinyal kuat bagi pasar global. Langkah ini memberikan lampu hijau bagi investor institusi yang selama ini membutuhkan landasan teoritis sebelum masuk ke pasar aset kripto.
Meski angka pertumbuhan 10 persen mungkin tidak terlihat spektakuler bagi spekulan pasar, bagi ekosistem investasi institusional, angka ini adalah sebuah validasi besar. Kini, pasar tinggal menunggu bagaimana aliran dana dari institusi besar tersebut mulai mengalir ke aset kripto dalam beberapa tahun mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor














:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379861/original/083782900_1792649952-Cesc_Fabregas_.jpg)