Yuan China Sentuh Level Terkuat Tiga Tahun, Dominasi Dolar AS Masih Terjaga

Mata uang China, yuan, mencatatkan kinerja impresif dengan menyentuh level terkuatnya dalam tiga tahun terakhir terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan data Refinitiv, yuan ditutup pada posisi 6,7105 per dolar AS. Capaian ini menandai apresiasi sebesar 4 persen secara year-to-date, sekaligus menegaskan tren penguatan yang konsisten sepanjang September.
Peningkatan nilai tukar tersebut terjadi beriringan dengan ekspansi penggunaan yuan dalam transaksi lintas negara secara global. Fenomena ini dipicu oleh perubahan struktur rantai pasok global dan masifnya ekspansi perusahaan China ke berbagai negara.
Kepala Multinational Corporate Coverage Deutsche Bank untuk Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika, Konrad Haunit, menyatakan bahwa adopsi yuan telah meningkat secara bertahap selama lima tahun terakhir. Menurutnya, pergeseran model bisnis perusahaan menjadi faktor pendorong utama penggunaan mata uang tersebut dalam pembayaran internasional.
Perusahaan asal China kini lebih banyak membangun basis produksi, kantor, serta jaringan pemasok di luar negeri. Ketika hubungan dagang semakin erat, penggunaan yuan sebagai instrumen pembayaran menjadi langkah yang lebih efisien bagi para pelaku usaha.
Kondisi ini mendapatkan momentumnya pascapandemi Covid-19, di mana banyak perusahaan global mulai meninggalkan strategi rantai pasok tunggal yang berisiko. Mereka kini cenderung mendiversifikasi pemasok dan lokasi pabrik demi menjaga ketahanan operasional, yang secara tidak langsung memperluas jangkauan transaksi berbasis yuan.
Selain itu, fleksibilitas kebijakan tarif antarnegara turut menuntut perusahaan untuk lebih gesit dalam menentukan jalur perdagangan. Kemampuan untuk mengalihkan tujuan ekspor atau mengamankan pasokan melalui mata uang yang paling relevan dengan operasional bisnis menjadi sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan.
Fasilitas pendukung pun terus diperluas untuk memperlancar arus transaksi ini. Bank Rakyat China (PBoC) secara resmi telah menunjuk Deutsche Bank sebagai bank kliring yuan pertama di Eropa pada Agustus 2026, yang memungkinkan penyelesaian transaksi langsung melalui Frankfurt.
Meskipun yuan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, analis menekankan bahwa posisi dolar AS sebagai mata uang utama dunia belum terancam. Dolar AS masih mendominasi cadangan devisa global dengan porsi sebesar 57,13 persen pada kuartal pertama 2026, jauh melampaui porsi yuan yang tercatat sebesar 1,99 persen.
Haunit menambahkan bahwa peningkatan penggunaan yuan lebih didorong oleh kebutuhan pragmatis perusahaan dalam perdagangan daripada upaya sistematis untuk menggantikan peran dolar. Kedua mata uang tersebut saat ini cenderung berjalan beriringan sesuai dengan kebutuhan transaksi masing-masing pihak.
Evolusi peran yuan dalam sistem keuangan global akan terus berlanjut seiring dengan besarnya kontribusi China dalam rantai produksi dan inovasi dunia. Meski demikian, perjalanan menuju status mata uang global yang setara dengan dolar tetap memerlukan proses jangka panjang yang bertahap.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor









:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379462/original/095287800_1792633034-Khvicha_Kvaratskhelia.jpg)

