
Manchester United kembali menorehkan catatan kelam dalam sejarah partisipasi mereka di kompetisi Eropa setelah menelan kekalahan memalukan. Skuad asuhan Michael Carrick takluk dengan skor 1-4 saat melawat ke markas Como pada laga fase liga Liga Champions musim 2026/2027.
Hasil minor ini menjadi pengingat pahit bagi para pendukung Setan Merah akan rentetan performa buruk tim kesayangan mereka di pentas kontinental. Kekalahan ini memperpanjang daftar noda hitam yang pernah dialami Manchester United sepanjang sejarah mereka menghadapi klub-klub Eropa.
Salah satu luka terdalam terjadi pada musim 2011/2012 saat MU besutan Sir Alex Ferguson harus tersingkir lebih awal. Setelah ditahan imbang 3-3 di Old Trafford, mereka secara mengejutkan kalah 1-2 di markas Basel. Kekalahan di Swiss tersebut memaksa MU finis di posisi ketiga grup dan terlempar dari kompetisi Liga Champions.
Kejutan tidak menyenangkan juga pernah terjadi pada kualifikasi musim 2002/2003 saat menghadapi wakil Hungaria, Zalaegerszeg. Manchester United sempat takluk 0-1 pada leg pertama yang menjadi salah satu kemenangan bersejarah bagi klub Hungaria tersebut, meski akhirnya MU mampu membalikkan keadaan di leg kedua.
Di musim yang sama, MU kembali menelan pil pahit saat kalah telak 0-3 dari Maccabi Haifa. Meski MU sudah memastikan diri lolos ke fase berikutnya, kekalahan tersebut tetap menjadi catatan negatif karena melibatkan blunder fatal dari kiper debutan mereka, Ricardo.
Catatan memalukan lainnya muncul pada fase grup Liga Champions 2020/2021 saat bertandang ke markas Istanbul Basaksehir. Manchester United kalah 1-2 di Turki, sebuah hasil yang memicu kegagalan mereka melaju ke fase gugur setelah harus finis di peringkat ketiga grup.
Kekalahan terbaru kontra Como pun menjadi puncak dari serangkaian penampilan yang dinilai tidak terorganisasi. Como, yang berstatus sebagai klub debutan di ajang Liga Champions, mampu mengeksploitasi celah pertahanan MU dan mencetak empat gol sekaligus di depan pendukungnya sendiri.
Bagi Michael Carrick, hasil ini tentu meningkatkan tekanan terhadap posisinya sebagai juru taktik. Performa pemain utama yang tidak mampu membendung determinasi lawan di laga ini menjadi alarm bahaya bagi arah kebijakan taktikal klub ke depan di kompetisi Eropa.
Hasil 1-4 ini bukan sekadar kekalahan angka, melainkan cerminan dari inkonsistensi yang kerap menghantui Manchester United saat bermain di luar Inggris. Beban sejarah besar klub sering kali justru menjadi bumerang saat menghadapi tim-tim yang tampil dengan motivasi tinggi untuk menumbangkan raksasa Premier League tersebut.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor