:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3607023/original/025768600_1634630434-000_Par7196623.jpg)
Ballon d'Or selama puluhan tahun dianggap sebagai puncak pengakuan individu bagi pemain sepak bola profesional di seluruh dunia.
Sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1956, penghargaan ini menjadi simbol tertinggi bagi pemain yang menunjukkan performa terbaik dalam satu musim kompetisi. Meski demikian, sejarah mencatat sejumlah legenda besar yang gagal mengangkat trofi tersebut meski telah memberikan kontribusi luar biasa bagi klub maupun tim nasional mereka.
Thierry Henry merupakan salah satu sosok yang paling sering dibicarakan dalam daftar ini karena performanya yang impresif saat membela Arsenal.
Pemain asal Prancis ini memimpin skuad The Gunners saat mencatatkan rekor tidak terkalahkan di Premier League pada musim 2003/2004. Walaupun ia mampu meraih berbagai gelar liga, Henry hanya menempati posisi kedua pada tahun 2003 dan posisi ketiga pada 2006 dalam pemungutan suara Ballon d'Or.
Kisah serupa dialami oleh maestro lini tengah asal Spanyol, Andres Iniesta.
Ia menjadi sosok sentral dalam dominasi Barcelona di kancah Eropa serta menjadi pahlawan bagi Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010 berkat gol kemenangan di partai final. Meski memberikan dampak sebesar itu, Iniesta harus puas berada di urutan kedua pada tahun 2010 di belakang rekan setimnya sendiri, Lionel Messi.
Luis Suarez juga masuk dalam daftar pemain kelas dunia yang luput dari penghargaan bergengsi ini.
Penyerang Uruguay ini dikenal sangat tajam di depan gawang saat berseragam Liverpool dan Barcelona. Sepanjang kariernya, ia mencatatkan lebih dari 500 gol, namun secara mengejutkan tidak pernah sekalipun menembus posisi tiga besar dalam pemilihan peraih Ballon d'Or.
Ketidakadilan dalam sistem penilaian seringkali menjadi perdebatan ketika membahas bek legendaris seperti Paolo Maldini.
Maldini menghabiskan lebih dari dua puluh tahun kariernya sebagai pilar pertahanan AC Milan dan membantu klub tersebut meraih lima trofi Liga Champions. Karena fokus penghargaan yang kerap berpihak pada pemain penyerang, Maldini hanya mampu menduduki posisi ketiga pada tahun 2003 sebagai pencapaian terbaiknya.
Nama lain yang tidak bisa diabaikan adalah Xavi Hernandez, otak permainan di balik kejayaan Spanyol dan Barcelona.
Ia memiliki visi dan kemampuan mengontrol tempo pertandingan yang tidak tertandingi oleh gelandang manapun pada masanya. Xavi secara konsisten masuk ke jajaran kandidat peraih penghargaan, namun harus mengakui dominasi era Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang berlangsung selama satu dekade lebih.
Terakhir, ada Ferenc Puskas yang menjadi ikon sepak bola dunia pada era 1950-an.
Bintang asal Hungaria ini merupakan motor penggerak Golden Team yang mendominasi panggung internasional dan mencetak ratusan gol bagi Real Madrid. Pencapaian tertinggi Puskas hanya berakhir di posisi kedua pada 1960, sebuah catatan yang sangat kontras dengan pengaruh besarnya di dunia sepak bola.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor