Kilas Balik Kuburan AI: Daftar Startup dan Produk Teknologi yang Gagal

Dunia kecerdasan buatan atau AI sedang mengalami gejolak besar seiring dengan banyaknya perusahaan rintisan dan produk inovatif yang terpaksa gulung tikar. Relay, sebuah alat otomatisasi alur kerja bertenaga AI, resmi menghentikan layanannya pada Agustus lalu setelah kalah bersaing dengan platform raksasa seperti OpenAI dan Google.
Fenomena ini bukan sekadar insiden tunggal di industri teknologi. Berdasarkan data dari S&P Global Market Intelligence, sekitar 42 persen inisiatif berbasis AI akhirnya ditinggalkan oleh perusahaan induknya karena berbagai kendala teknis dan minimnya permintaan pasar.
Daftar kegagalan ini mencakup berbagai spektrum, mulai dari perangkat keras hingga aplikasi chatbot yang sempat populer. OpenAI sendiri, meskipun menjadi pemimpin pasar, sempat mengalami langkah keliru ketika mencoba mengubah ChatGPT menjadi super app yang justru membingungkan pengguna.
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah Character.ai, platform chatbot yang kini mengajukan kebangkrutan. Perusahaan yang sempat memiliki valuasi USD 1 miliar (sekitar Rp15,7 triliun) ini terjerat berbagai masalah hukum, mulai dari gugatan keluarga terkait keselamatan remaja hingga isu pelanggaran hak cipta karakter fiksi.
Kegagalan juga menimpa sektor perangkat keras dengan kasus Humane AI Pin yang sempat mengumpulkan pendanaan sebesar USD 230 juta (sekitar Rp3,6 triliun). Produk tersebut ditarik dari pasar karena masalah kinerja dan risiko kebakaran baterai, yang akhirnya membuat aset perusahaan diakuisisi oleh HP senilai USD 116 juta (sekitar Rp1,8 triliun).
Kasus serupa menimpa Microsoft dengan fitur Recall pada sistem operasi Windows yang menuai kritik tajam terkait privasi. Fitur ini dirancang untuk merekam aktivitas layar pengguna secara berkala, namun justru memicu kekhawatiran karena berisiko menyimpan data sensitif seperti kata sandi dan riwayat keuangan.
Selain itu, terdapat Notion Mail yang dijadwalkan tutup pada 22 September setelah perusahaan menyadari pengguna lebih memilih agen AI terpisah untuk mengelola kotak masuk mereka. Ada pula Yupp, sebuah platform pengujian AI yang gagal menemukan kecocokan di pasar meskipun sempat menawarkan akses ke ratusan model bahasa besar.
Perjalanan Apple dalam mengembangkan Siri berbasis AI juga tidak luput dari hambatan teknis yang berujung pada denda penyelesaian sebesar USD 250 juta (sekitar Rp3,9 triliun). Apple Intelligence, yang digadang-gadang sebagai masa depan Siri, mengalami penundaan peluncuran selama berbulan-bulan akibat masalah bug dan rekayasa perangkat lunak.
Rentetan peristiwa ini memberikan pelajaran berharga bagi para pelaku industri bahwa inovasi semata tidak cukup untuk menjamin kelangsungan bisnis. Keberhasilan dalam ekosistem AI sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan nyata pengguna serta menjaga standar keamanan dan regulasi yang ketat.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor






![Google Wallet Kini Hadirkan Fitur Notifikasi dan Dukungan Paspor Digital Baru Google Wallet rolling out notifications feed, support for more digital passports [U]](https://cdn.beritana.com/media/2026/10/google-wallet-rolling-out-notifications-feed-support-for-more-digital-passports.webp)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3607023/original/025768600_1634630434-000_Par7196623.jpg)

