Akhir Era Utang Murah: Beban Utang AS Tembus USD 40 Triliun

Era utang pemerintah yang murah kini perlahan berakhir seiring dengan lonjakan beban kewajiban Amerika Serikat yang menembus angka USD 40 triliun (sekitar Rp628.000 triliun) pada Agustus lalu.
Para investor global mulai menaruh curiga terhadap perilaku peminjaman Washington yang agresif. Ketidakpercayaan ini tercermin dari imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun yang sempat menyentuh angka 5,4 persen, sebuah level tertinggi sejak tahun 2007.
Langkah nyata dari keraguan investor terlihat dari manuver dana pensiun terbesar di dunia milik Norwegia. Mereka berencana memangkas kepemilikan obligasi pemerintah AS sebanyak USD 80 miliar (sekitar Rp1,25 kuadriliun) dari total posisi sebelumnya yang mencapai USD 215 miliar.
Beban bunga utang AS kini melampaui pengeluaran untuk sektor militer nasional. Menurut data Congressional Budget Office, Washington harus menyisihkan lebih dari USD 1 triliun per tahun hanya untuk membayar bunga utang, setara dengan pengeluaran harian mencapai USD 3 miliar.
Situasi ini menimbulkan tantangan fiskal yang pelik bagi Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. Ia berupaya memangkas defisit anggaran hingga separuhnya pada 2026, sebuah target yang dinilai sejumlah pengamat sebagai ambisi yang sulit diwujudkan.
Tantangan tersebut muncul karena adanya beban biaya perang di Iran yang membengkak serta potensi penurunan pendapatan negara akibat kebijakan pemotongan pajak korporasi. Selain itu, rencana tarif impor yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung turut menekan postur fiskal negara tersebut.
Strategi Bessent untuk menekan imbal hasil obligasi dengan meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah juga dinilai belum cukup. Pakar pasar modal dari Fidelity International, Carsten Roemheld, menyebut tindakan tersebut terlalu kecil untuk menjaga stabilitas imbal hasil dalam jangka panjang.
Di sisi lain, muncul kompetitor baru bagi obligasi pemerintah AS yaitu surat utang korporasi yang bergerak di sektor kecerdasan buatan atau AI. Perusahaan teknologi raksasa yang membangun infrastruktur AI tercatat telah menghimpun utang lebih dari USD 800 miliar tahun ini.
Bagi para investor, obligasi dari perusahaan seperti Microsoft atau Alphabet seringkali dianggap lebih menarik dibandingkan obligasi negara. Produk investasi korporasi ini memberikan imbal hasil yang lebih kompetitif dengan selisih atau spread hingga 100 basis poin di atas surat utang negara.
Meski begitu, pasar modal Eropa atau negara berkembang dianggap belum mampu menggantikan posisi AS sebagai instrumen investasi utama. Selama ekonomi Amerika Serikat tetap mencatatkan pertumbuhan, investor diperkirakan tetap bertahan di pasar tersebut meskipun ada kekhawatiran mengenai inflasi dan keberlanjutan utang.
Opsi terakhir yang mungkin diambil Washington adalah mencetak uang lebih banyak untuk menutupi utang. Namun, langkah ini berisiko mengikis kepercayaan internasional terhadap mata uang dolar AS dan memicu volatilitas nilai tukar di masa mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)







