Aksi Protes Mahasiswa Albania Meluas, Perdana Menteri Tuding Antifa

Aksi unjuk rasa mahasiswa dan dosen di depan Kementerian Pendidikan Albania di Tirana kembali memanas pada Selasa lalu. Para pengunjuk rasa berkumpul di tengah sisa-sisa kerusakan gedung akibat demonstrasi besar yang terjadi pada 13 Oktober silam.
Kondisi di lokasi masih terlihat mencekam dengan jendela yang pecah dan dinding yang menghitam akibat bekas kebakaran. Mereka menuntut perbaikan sistem pendidikan sekaligus mendesak Perdana Menteri Edi Rama mundur dari jabatannya.
Gelombang protes ini telah berlangsung hampir lima bulan di Albania. Akar kemarahan publik bermula dari rencana pembangunan kompleks hotel mewah di kawasan cagar alam yang melibatkan Jared Kushner, menantu mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kini, intensitas bentrokan antara pelajar dengan aparat keamanan meningkat hampir setiap hari. Polisi dilaporkan menggunakan meriam air untuk membubarkan massa yang mulai melemparkan batu ke arah gedung kementerian.
Seorang mahasiswi bernama Sara mengungkapkan bahwa para pengunjuk rasa tidak lagi mengandalkan organisasi tradisional atau partai politik untuk mengoordinasikan gerakan mereka. Mereka memanfaatkan platform digital untuk berkomunikasi agar pergerakan tetap terjaga tanpa terdeteksi aparat.
Pakar keamanan siber asal Albania, Besmir Semanaj, menilai media sosial telah menjadi ruang publik utama bagi generasi muda saat ini. Mereka lebih aktif berorganisasi melalui Instagram, WhatsApp, Telegram, hingga TikTok daripada menempuh jalur audiensi resmi.
Struktur organisasi yang horizontal tanpa pemimpin pusat ini membuat pemerintah kesulitan meredam aksi massa. Telegram menjadi instrumen paling efektif karena memungkinkan pengumuman disebarkan ke puluhan ribu orang dalam waktu singkat tanpa kontrol eksternal yang ketat.
Menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri Edi Rama menyebut gerakan pemuda ini sebagai perang hibrida. Ia menuding para pengunjuk rasa telah diradikalisasi oleh kelompok Antifa, sebuah label yang ia klaim sebagai ancaman terorisme internasional.
Peneliti masalah keamanan, Redion Qirjazi, meragukan klaim Rama tersebut. Ia menegaskan tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan keterlibatan struktur organisasi Antifa dalam mengatur aksi protes di Albania.
Menurut Qirjazi, narasi tuduhan terhadap kekuatan asing atau ekstremisme merupakan strategi pemerintah untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah sebenarnya. Hal ini dilakukan untuk mendelegitimasi tuntutan warga terkait korupsi dan kemerosotan ekonomi.
Arlind Qori, ketua gerakan oposisi Together Movement, menambahkan bahwa tuntutan mahasiswa sangat moderat, yakni meminta mundurnya pemimpin yang korup. Rakyat menginginkan perubahan nyata terhadap kemiskinan dan rendahnya prospek pekerjaan bagi lulusan universitas.
Kondisi ekonomi yang sulit memaksa banyak orang tua bermigrasi ke luar negeri karena ketidakmampuan membiayai keluarga di dalam negeri. Bagi para pemuda di lapangan, keberadaan mereka di jalanan merupakan ekspresi kekecewaan atas status quo yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor







:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379861/original/083782900_1792649952-Cesc_Fabregas_.jpg)



