AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz, Ketegangan Kembali Memanas

Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan saling melancarkan serangan udara untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan, memicu kembali kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di kawasan Teluk. Insiden ini berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial bagi perdagangan minyak global, menandai babak baru dalam konflik yang berkepanjangan antara kedua negara.
Menurut seorang pejabat AS, pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap dua peluncur rudal yang berlokasi di Pulau Larak, Selat Hormuz. Serangan ini disebut Komando Pusat AS (US Central Command) sebagai “tindakan terbatas dan presisi” terhadap “pasukan pemasang ranjau yang menimbulkan ancaman segera di Selat Hormuz.”
Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa serangan AS ini, yang menjadi serangan pertama terhadap Iran sejak akhir Juli, menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya. IRGC menegaskan akan melakukan “pembalasan dan hukuman” atas insiden tersebut.
Sebagai balasan, Iran mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone AS di atas Selat Hormuz. Tidak hanya itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran juga menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania.
Angkatan Darat Yordania membenarkan adanya insiden tersebut, menyatakan bahwa pihaknya berhasil mencegat delapan rudal pada Senin pagi. Pangkalan yang menjadi target serangan Iran adalah King Hussein dan al-Azraq, keduanya merupakan fasilitas militer AS di Yordania.
IRGC, melalui pernyataan yang dikutip media Iran, mengeklaim telah menyebabkan “kerusakan parah” dan menargetkan “infrastruktur teknis, fasilitas pemeliharaan, serta posisi jet tempur musuh” di pangkalan tersebut. Klaim ini belum dikonfirmasi secara independen oleh pihak AS atau Yordania.
Pulau Larak, yang menjadi lokasi serangan awal AS, merupakan titik strategis yang terletak tidak jauh dari pelabuhan penting Bandar Abbas, tepat di jalur Selat Hormuz. Selat ini vital karena menjadi pintu gerbang bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik dimulai.
Kini, Iran dilaporkan memaksa lalu lintas kapal tanker untuk melewati pulau ini guna pemeriksaan, dan kabarnya mewajibkan kapal membayar USD 2 juta (sekitar Rp32,6 miliar) untuk melintas. Kebijakan ini jelas menambah ketegangan di salah satu jalur maritim tersibuk di dunia.
Hossein Mohebbi, juru bicara IRGC, mengecam serangan AS tersebut sebagai “kesalahan strategis dan fatal oleh rezim Trump.” Ia menegaskan bahwa “musuh akan menanggung konsekuensi dari salah perhitungan ini, baik di bidang ekonomi maupun militer.”
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah dan dikutip AFP, menyatakan sikap negaranya. “Kami tidak mencari perang, tetapi kami akan memberikan tanggapan tegas kepada para agresor,” kata Pezeshkian.
Beberapa jam setelah serangan tersebut, mantan Presiden AS Donald Trump mengunggah video yang tampaknya dibuat dengan teknologi AI di platform media sosialnya, Truth Social. Video-video itu menampilkan infrastruktur minyak yang meledak.
Salah satu unggahan Trump diberi keterangan, “Pulau Kharg meledak berkeping-keping!!!” mengacu pada terminal minyak utama di lepas pantai Iran yang sebelumnya pernah diancam akan diambil alih oleh Trump. Unggahannya tersebut tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai video atau klaimnya.
Pekan lalu, Trump sempat mengklaim bahwa semua ranjau yang dipasang Iran di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya blokadenya telah diledakkan atau disingkirkan. Ia bahkan memperingatkan bahwa setiap kapal atau perahu yang mengerahkan ranjau baru akan dihancurkan.
Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menepis klaim Trump tersebut sebagai “propaganda” dan penipuan. Komentar ini menunjukkan adanya perang informasi yang intens di tengah eskalasi militer.
Ketegangan ini muncul di tengah tekanan ekonomi baru yang dihadapi Iran. Washington mengumumkan kampanye sanksi baru pada 24 Agustus, yang bertujuan untuk semakin mengisolasi Teheran dan memperluas sanksi sekunder terhadap sekutunya. Pejabat Iran dan media pemerintah sebagian besar menepis kampanye sanksi ini sebagai kelanjutan dari langkah-langkah ekonomi AS sebelumnya.
Mereka berpendapat bahwa sanksi tersebut mengikuti kegagalan militer Washington dalam konflik baru-baru ini. Konflik di kawasan ini sendiri telah berlangsung selama enam bulan, sejak AS dan Israel melancarkan serangan luas ke Iran pada 28 Februari. Iran menanggapi dengan menyerang Israel, pangkalan-pangkalan AS, dan negara-negara sekutunya di Teluk, serta secara efektif menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas laut.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








