Film The Assassin(s) Picu Perdebatan Sejarah Kelam Politik Korea Selatan

Penayangan film berjudul The Assassin(s) di Korea Selatan belakangan ini memicu perdebatan panas mengenai narasi sejarah negara tersebut.
Film ini menyoroti peristiwa penembakan tahun 1974 yang hingga kini masih menyisakan banyak misteri. Peristiwa tersebut merupakan upaya pembunuhan terhadap Presiden Park Chung-hee yang berujung pada kematian ibu negara, Yuk Young-soo.
Karya sinematik tersebut menguak kembali luka lama dan teori konspirasi yang sering disandingkan dengan peristiwa pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy. Selama puluhan tahun, publik di Korea Selatan terbelah mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik insiden berdarah itu.
Beberapa kalangan menganggap film ini sebagai bentuk reinterpretasi sejarah yang berani. Namun, kelompok lain justru menuduhnya sebagai alat politisasi sejarah yang dapat memperlebar jurang polarisasi di tengah masyarakat saat ini.
Pembunuhan tahun 1974 itu memang bukan sekadar peristiwa kriminal biasa dalam sejarah Korea Selatan.
Kejadian tersebut menjadi titik balik otoritarianisme di bawah kepemimpinan Park Chung-hee yang berkuasa melalui kudeta militer pada 1961. Banyak pihak menganggap masa pemerintahannya sebagai era pembangunan ekonomi yang pesat, tetapi sekaligus periode penindasan hak asasi manusia yang brutal.
Perdebatan ini mencerminkan kondisi sosial di Korea Selatan yang masih terjebak dalam memori kolektif masa lalu. Bagi generasi yang lebih tua, Park Chung-hee sering dipandang sebagai arsitek kemakmuran modern negara itu.
Sebaliknya, generasi muda lebih cenderung kritis terhadap warisan kediktatoran yang ditinggalkan oleh sang mendiang presiden. Ketegangan ini terlihat jelas dari bagaimana media dan diskusi daring merespons kehadiran film tersebut di bioskop.
Pengamat film menilai bahwa The Assassin(s) berhasil memotret kerumitan emosional dari sebuah bangsa yang sedang mencari jati diri melalui masa lalunya. Film ini tidak memberikan jawaban mutlak atas teori konspirasi yang berkembang, melainkan menyajikan berbagai sudut pandang yang selama ini terabaikan.
Produksi film ini menelan biaya sekitar USD 4 juta (setara dengan Rp64 miliar). Angka ini tergolong besar untuk sebuah film dokumenter sejarah yang menyasar segmen penonton khusus dengan ketertarikan mendalam pada isu politik lokal.
Keberhasilan film ini dalam menarik perhatian publik membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar teks beku di buku sekolah. Sejarah adalah medan tempur ideologis yang terus berubah mengikuti dinamika politik terkini di Korea Selatan.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda perdebatan ini akan mereda dalam waktu dekat. Justru, diskusi di berbagai platform digital semakin intensif dengan munculnya klaim baru mengenai dokumen-dokumen yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan.
Peristiwa penembakan 1974 ini tetap menjadi salah satu bab paling gelap dan membingungkan dalam sejarah modern Korea Selatan.
Publik kini menanti apakah akan ada klarifikasi resmi dari pihak berwenang atau jika film ini akan terus dibiarkan menjadi bahan perdebatan tanpa titik temu yang jelas. Sementara itu, antrean penonton di bioskop-bioskop utama Seoul masih terlihat padat setiap akhir pekan.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












