Langsung ke konten
beritana
Breaking

Perundingan AS-Iran di Swiss Hasilkan Kesepakatan Damai Awal

Foto Beritana UpdateBeritana Update3 menit bacaWorld
First round of US-Iran talks ends with encouraging progress, mediators say
Iran's lead negotiator Mohammad Bagher Ghalibaf has dismissed Donald Trump's threat to renew strikes

Babak pertama perundingan AS-Iran yang dimediasi oleh Qatar dan Pakistan berakhir dengan kemajuan yang membesarkan hati bagi kedua belah pihak. Pertemuan di Swiss ini menghasilkan kesepakatan peta jalan untuk mencapai kesepakatan damai final dalam waktu 60 hari ke depan.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa terdapat kemajuan besar untuk mengakhiri konflik bersenjata di Lebanon yang melibatkan kelompok Hizbullah. Nota kesepahaman yang diteken pekan lalu tersebut juga mencakup komitmen penghentian pertempuran di semua front, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital di Timur Tengah yang dilalui oleh sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia.

"Mediasi Pakistan dan Qatar telah membawa kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon," tulis Araghchi melalui akun media sosial pribadinya.

Araghchi menambahkan bahwa sanksi ekspor minyak serta petrokimia Iran kini telah ditangguhkan, blokade dicabut, dan sebagian aset yang dibekukan bakal segera dilepas. AS juga menyetujui rencana rekonstruksi untuk Iran senilai USD 300 miar (sekitar Rp4.800 triliun).

Meskipun delegasi utama Iran dilaporkan telah meninggalkan kota Lucerne, Swiss, diskusi teknis antar-kedua negara dipastikan tetap berjalan. Guna mencegah insiden salah komunikasi di perairan internasional, kedua pihak sepakat membentuk jalur komunikasi khusus demi menjamin keamanan kapal dagang. Langkah taktis ini diambil setelah sempat terjadi ketegangan terkait klaim penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran beberapa waktu lalu.

Selain itu, kedua belah pihak sepakat membentuk unit koordinasi khusus untuk meminimalkan potensi bentrokan militer di Lebanon.

Namun, situasi di lapangan masih dibayangi oleh ketidakpastian akibat eskalasi pertempuran yang terus terjadi antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan. Otoritas kesehatan setempat melaporkan puluhan warga sipil tewas akibat serangan udara Israel yang terus dilancarkan, meskipun kesepakatan gencatan senjata baru telah diumumkan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan selama diperlukan untuk melindungi wilayah utara Israel. Sikap keras ini langsung direspons oleh pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, yang menolak kehadiran militer Israel dalam bentuk apa pun. Hizbullah menegaskan komitmen mereka untuk terus melakukan perlawanan bersenjata guna mempertahankan kedaulatan Lebanon.

Sebelum perundingan dimulai, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Presiden Donald Trump meminta para negosiator untuk membuka lembaran baru dalam hubungan diplomatik kedua negara.

Vance menekankan bahwa Washington siap merombak hubungan bilateral secara fundamental jika Teheran bersedia menghentikan ambisi senjata nuklir jangka panjangnya. Iran sendiri selama ini selalu menegaskan bahwa program pengembangan nuklir mereka murni ditujukan untuk tujuan damai.

Di sisi lain, perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menepis ancaman militer yang sempat dilontarkan oleh Trump sebelum pertemuan dimulai. Ghalibaf menyebut ancaman sanksi dan serangan militer AS tidak akan memengaruhi posisi tawar negaranya dalam meja perundingan. Menurutnya, Iran lebih memilih membuktikan kekuatan mereka melalui tindakan nyata di lapangan daripada sekadar retorika politik.

Sejatinya, ketegangan regional telah merenggut sedikitnya 4.106 korban jiwa di Lebanon sejak awal Maret berdasarkan data kementerian kesehatan setempat.

Sementara itu, pihak berwenang Israel melaporkan adanya korban tewas di pihak mereka yang terdiri dari 36 tentara dan empat warga sipil. Israel bersikeras bahwa kampanye militer mereka terhadap Hizbullah terpisah dari perang yang mereka lancarkan bersama AS terhadap Iran sejak akhir Februari lalu.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update