Langsung ke konten
beritana

Serangan Drone Ukraina Putus Jalur Logistik, Krisis Bahan Bakar di Crimea Kian Parah

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaWorld
a02730a0-635c-11f1-8e1d-bbbb1017d210.jpg
Locals are only able to buy 20 litres of fuel at most petrol stations in Russian-occupied Crimea - if they are able to find any at all

Kampanye serangan drone yang intensif dari Ukraina kini mulai melumpuhkan jalur pasokan logistik utama Rusia di wilayah pendudukan. Gangguan ini memicu krisis bahan bakar parah yang merembet hingga ke Semenanjung Crimea.

Semenanjung Crimea yang dianeksasi Rusia pada 2014 menjadi titik paling terdampak dengan kelangkaan bahan bakar yang kronis. Situasi ini dipicu oleh serangan presisi Ukraina terhadap infrastruktur jalan serta jembatan vital yang menghubungkan Rostov dengan kota pelabuhan Mariupol.

Analis dari lembaga think tank Atum Mundi, Clément Molin, menyebut jalur tersebut sebagai tulang punggung pendudukan Rusia di wilayah selatan. Sejak awal Mei, Ukraina telah melancarkan sekitar 300 serangan drone yang menyasar truk logistik, termasuk 30 unit mobil tangki bahan bakar.

Data dari komandan pasukan drone Ukraina, Robert Brovdi, menunjukkan penurunan drastis lalu lintas kargo militer di jalur tersebut sebesar 71 persen dalam kurun waktu akhir Mei hingga awal Juni. Angka ini menegaskan betapa efektifnya taktik pemutusan rantai pasok yang diterapkan Kyiv.

Dampak di lapangan terlihat dari antrean panjang warga di stasiun pengisian bahan bakar umum yang bisa mencapai 10 jam. Banyak warga di Simferopol kini terpaksa membatasi aktivitas mobilitas mereka karena keterbatasan pasokan.

Otoritas pendudukan yang ditunjuk Kremlin bahkan memberlakukan sistem voucer dengan batas maksimal pembelian hanya 20 liter bahan bakar. Sergei Aksyonov, kepala wilayah yang ditunjuk Rusia, mengakui secara terbuka bahwa permintaan bahan bakar saat ini tidak mampu dipenuhi oleh pemerintah setempat.

Kementerian Energi Rusia akhirnya mengakui adanya kendala pasokan di wilayah selatan akibat serangan udara musuh yang terus berlanjut. Mereka kini telah mendirikan pusat komando permanen untuk mencoba mengatasi kemacetan logistik yang semakin mengkhawatirkan bagi militer Rusia tersebut.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update