Serangan Militer AS di Pasifik Timur Tewaskan 3 Orang dalam Operasi Narkoba
![The US military has destroyed numerous vessels in the Pacific over recent months [File: AP]](https://res.cloudinary.com/beritana/image/upload/f_webp,q_auto/v1781859636/media/2026/06/zcu1fknef7qyqgx3tzre.webp)
Militer Amerika Serikat menewaskan sedikitnya tiga orang dalam sebuah serangan di Samudra Pasifik Timur. Insiden ini terjadi terhadap sebuah kapal yang diduga kuat terlibat dalam penyelundupan narkoba, bagian dari upaya Washington memberantas 'narkoteroris'.
Serangan yang dilancarkan pada Kamis lalu itu merupakan insiden terbaru dari serangkaian tindakan terhadap kapal-kapal di dekat wilayah AS. Administrasi Presiden Donald Trump sebelumnya telah menyatakan komitmennya untuk memberantas penyelundup narkoba.
Menurut keterangan Washington, kapal yang menjadi target serangan tersebut membawa narkotika yang belum teridentifikasi dari Amerika Latin menuju AS. Target ini diyakini melintasi rute-rute penyelundupan narkoba yang memang sudah teridentifikasi di Pasifik Timur.
Komando Selatan AS (US Southern Command) mengunggah pernyataan di media sosialnya, mengonfirmasi telah melakukan "serangan kinetik mematikan terhadap sebuah kapal yang dioperasikan oleh Organisasi Teroris yang Ditunjuk."
Pernyataan itu menambahkan, "Intelijen mengonfirmasi kapal tersebut sedang transit di sepanjang rute penyelundupan narkoba yang dikenal di Pasifik Timur dan terlibat dalam operasi penyelundupan narkoba. Tiga pria narkoteroris tewas selama tindakan ini." Sebuah video tidak terklasifikasi yang disertakan dalam pernyataan itu juga menunjukkan saat sebuah kapal cepat dihantam rudal dan terbakar.
Total korban tewas akibat serangan serupa di Pasifik kini telah mencapai sedikitnya 211 orang.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim bahwa negaranya tengah berada dalam "konflik bersenjata" dengan kartel narkoba di Amerika Latin. Ia menyatakan, pemerintahannya berupaya keras untuk menghentikan aliran narkoba tersebut.
Namun, administrasi Trump belum memberikan bukti konkret yang menghubungkan semua korban tewas dengan jaringan penyelundupan narkoba. Beberapa pihak bahkan menuduh AS membunuh nelayan lokal yang tidak memiliki hubungan dengan kartel narkoba.
Legitimasi serangan-serangan ini secara konsisten dipertanyakan oleh berbagai kritikus, termasuk para politisi AS dan kelompok hak asasi manusia.
Pada Kamis, para senator AS menuntut Pentagon untuk merilis video "tanpa editan" dari serangan-serangan kapal tersebut.
Serangan pertama pada September lalu menarik perhatian khusus dari anggota parlemen AS setelah militer mengonfirmasi penggunaan pendekatan "double-tap". Pendekatan ini menewaskan dua penyintas dari serangan awal, sehingga total sebelas orang tewas dalam insiden tersebut.
Pemerintahan Trump bersikeras bahwa serangan susulan itu merupakan tindakan "membela diri". Akan tetapi, para kritikus menegaskan bahwa membunuh para penyintas merupakan tindakan ilegal.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor







