Strategi Bessent untuk menekan imbal hasil obligasi dengan meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah juga dinilai belum cukup. Pakar pasar modal dari Fidelity International, Carsten Roemheld, menyebut tindakan tersebut terlalu kecil untuk menjaga stabilitas imbal hasil dalam jangka panjang.
Di sisi lain, muncul kompetitor baru bagi obligasi pemerintah AS yaitu surat utang korporasi yang bergerak di sektor kecerdasan buatan atau AI. Perusahaan teknologi raksasa yang membangun infrastruktur AI tercatat telah menghimpun utang lebih dari USD 800 miliar tahun ini.
Bagi para investor, obligasi dari perusahaan seperti Microsoft atau Alphabet seringkali dianggap lebih menarik dibandingkan obligasi negara. Produk investasi korporasi ini memberikan imbal hasil yang lebih kompetitif dengan selisih atau spread hingga 100 basis poin di atas surat utang negara.
Meski begitu, pasar modal Eropa atau negara berkembang dianggap belum mampu menggantikan posisi AS sebagai instrumen investasi utama. Selama ekonomi Amerika Serikat tetap mencatatkan pertumbuhan, investor diperkirakan tetap bertahan di pasar tersebut meskipun ada kekhawatiran mengenai inflasi dan keberlanjutan utang.
Opsi terakhir yang mungkin diambil Washington adalah mencetak uang lebih banyak untuk menutupi utang. Namun, langkah ini berisiko mengikis kepercayaan internasional terhadap mata uang dolar AS dan memicu volatilitas nilai tukar di masa mendatang.