Analisis IMF Ungkap Saham Tokenisasi Tawarkan Peluang dan Risiko Volatilitas

Pasar saham tokenisasi menunjukkan pertumbuhan permintaan yang nyata meski masih menghadapi kendala volatilitas dan likuiditas yang rendah di pasar global.
Laporan Stabilitas Keuangan Global terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat lebih dari setengah volume perdagangan saham tokenisasi terjadi di luar jam bursa reguler Amerika Serikat. Fakta ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku investor ritel yang menginginkan akses fleksibel ke instrumen pasar modal tradisional.
Saham tokenisasi adalah aset digital berbasis teknologi blockchain yang melacak pergerakan harga saham perusahaan publik. Sekitar 80 persen transaksi instrumen ini melibatkan pecahan saham, yang mencerminkan tingginya minat investor kecil untuk memiliki kepemilikan fraksional pada perusahaan besar seperti Tesla atau Nvidia.
IMF melakukan studi mendalam terhadap lima aset saham tokenisasi Amerika Serikat yang paling likuid di sebelas platform perdagangan selama setahun penuh. Hasil riset tersebut menunjukkan harga di jaringan blockchain menyimpan informasi pasar yang relevan dan signifikan.
Ketika pasar bursa tradisional dibuka kembali, saham konvensional mampu menyerap 87 hingga 99 persen pergerakan harga yang terjadi pada aset tokenisasi selama malam hari. Sinkronisasi harga ini membuktikan bahwa aset digital mulai memiliki korelasi erat dengan ekosistem keuangan arus utama.
Namun, tantangan bagi investor tetap terlihat jelas karena aset tokenisasi tercatat 1,5 kali lebih volatil dibandingkan saham aslinya. Likuiditas yang rendah, terutama pada bursa terdesentralisasi, sering kali menyebabkan disparitas harga yang cukup lebar jika dibandingkan dengan bursa konvensional.
Saat ini, nilai pasar saham tokenisasi masih tergolong kecil, yakni mencapai USD 2,3 miliar atau sekitar Rp37,2 triliun. Lebih dari 70 persen pasar ini dikuasai oleh dua pemain utama, yaitu Ondo Finance dan Backed Finance, yang menawarkan token sintetis sebagai alat pelacak harga tanpa memberikan hak kepemilikan langsung atas saham tersebut.
Pihak IMF menekankan bahwa temuan ini harus disikapi dengan kehati-hatian karena industri ini masih berada dalam tahap awal pengembangan. Risiko sistemik terhadap ekonomi global memang dinilai masih terbatas saat ini.
Regulator didesak untuk mempertimbangkan mekanisme penghentian perdagangan otomatis atau circuit breakers guna merespons pola perdagangan yang berjalan selama 24 jam penuh. Pengawasan ketat terhadap keterkaitan antara aset digital dan pasar saham tradisional juga dinilai perlu diperkuat.
Laporan ini dirilis saat para pelaku pasar besar di Amerika Serikat mulai berbondong-bondong masuk ke ruang tokenisasi. Perusahaan raksasa seperti NYSE bahkan telah menjalin kemitraan dengan Blockchain.com dan OKX untuk memfasilitasi perdagangan saham tokenisasi secara berkelanjutan.
Selain itu, platform Securitize baru saja menghadirkan token saham perusahaan besar seperti Apple dan Amazon di jaringan Solana. Langkah serupa diambil oleh Cboe yang menyepakati kontrak opsi berbasis token dan Coinbase yang meluncurkan akses saham tokenisasi untuk pengguna di luar wilayah Amerika Serikat melalui jaringan Base.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












