Bencana Banjir Bandang Nepal: Korban Tewas Tembus 1.000 Jiwa dan Ribuan Hilang

Jumlah korban tewas akibat banjir bandang besar yang melanda wilayah perbatasan Himalaya antara Nepal dan China dilaporkan telah melampaui 1.000 jiwa.
Otoritas setempat pada Selasa menyatakan bahwa sebanyak 987 orang tewas di Nepal, sementara di China tercatat 16 orang meninggal dunia. Selain korban jiwa, proses pencarian terhadap hampir 4.000 orang yang masih dinyatakan hilang hingga saat ini terus diintensifkan.
Data tersebut mencakup sekitar 800 warga negara asing yang turut menjadi korban dalam bencana alam ini. Tim pencarian dan penyelamatan bekerja keras di tengah kondisi lapangan yang sangat sulit serta medan yang labil.
Petugas di lapangan mengerahkan anjing pelacak untuk menyisir tumpukan lumpur, batuan besar, dan puing-puing bangunan yang terseret arus banjir. Kondisi geografis yang rusak parah menyulitkan akses logistik dan evakuasi ke daerah-daerah terisolasi.
Pemerintah Nepal saat ini memfokuskan upaya penyelamatan terhadap sekitar 500 pekerja yang diduga terjebak di dalam terowongan pada dua belas proyek pembangkit listrik tenaga air. Pembangkit listrik tenaga air adalah sarana produksi energi yang memanfaatkan aliran sungai deras untuk menggerakkan turbin, sebuah infrastruktur yang jamak ditemukan di wilayah pegunungan seperti Himalaya.
Bencana ini bermula pada 28 Agustus ketika runtuhnya gletser di pegunungan Himalaya memicu aliran batuan, es, dan air lelehan yang sangat kuat menuju lembah di bawahnya. Fenomena tersebut menciptakan energi penghancur yang begitu masif sehingga sensor seismik mencatat getaran setara gempa berkekuatan 5,2 magnitudo.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyatakan keprihatinan mendalam mengenai dampak nyata perubahan iklim terhadap stabilitas wilayah Himalaya. Baginya, rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa risiko bencana di kawasan pegunungan semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Pemerintah Nepal berkomitmen untuk terus menyuarakan urgensi penanganan dampak perubahan iklim di tingkat internasional. Mereka mendesak agar negara-negara lain lebih waspada dan bersatu dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem di masa depan.
Upaya evakuasi skala besar ini diprediksi akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan mengingat luasnya area terdampak. Fokus utama saat ini tetap pada pencarian korban selamat di bawah reruntuhan dan normalisasi jalur transportasi yang sempat terputus total.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor














