Kehadiran Rusia dan Pembatasan Pers di KTT G20 AS Picu Protes Sekutu

Pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara anggota G20 di Asheville, North Carolina, kini menjadi sorotan tajam dunia internasional.
Amerika Serikat sebagai pemegang presidensi G20 menuai kritik keras dari negara-negara Eropa setelah mengundang Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov untuk hadir secara langsung dalam forum tersebut. Kehadiran ini menandai undangan pertama bagi Rusia dalam forum tatap muka G20 sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada tahun 2022.
Situasi semakin runyam ketika sejumlah media besar Amerika Serikat, termasuk Bloomberg News, Wall Street Journal, dan New York Times, melaporkan adanya pembatasan akses liputan bagi jurnalis mereka. Menteri Keuangan Jerman, Lars Klingbeil, secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya terhadap langkah tuan rumah yang membatasi kebebasan pers.
Klingbeil menegaskan bahwa akses terbuka bagi media merupakan hak legitimasi dalam peliputan KTT G20 yang bersifat global. Baginya, penolakan kredensial bagi jurnalis atau tim redaksi tertentu adalah tindakan yang tidak dapat diterima.
Ketegangan diplomatik tidak berhenti di situ saja. Pertemuan ini juga dibayangi oleh konflik yang melibatkan Iran serta sengketa perdagangan baru antara pemerintahan Donald Trump dan Kanada.
Menteri Keuangan Polandia, Andrzej Domanski, menyatakan bahwa meskipun ia menghargai hak tuan rumah untuk mengundang siapa pun, kehadiran Rusia tetap melukai kepercayaan sesama anggota G20. Ia secara eksplisit menyebut bahwa melakukan pembicaraan dengan Moskow saat ini menjadi tantangan berat bagi banyak pihak.
Di balik layar, Menteri Keuangan AS Scott Bessent berupaya menggalang dukungan dari sekutu untuk menerapkan kebijakan baru bernama Operation Economic Outcast. Program ini bertujuan memperketat sanksi terhadap Iran dengan menekan negara ketiga yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Teheran agar segera menghentikan aktivitas ekonomi mereka.
Bessent optimistis bahwa tekanan ekonomi tersebut dapat memaksa rezim Iran untuk mengubah arah kebijakan dalam waktu dekat. Ia menyebut bahwa dampak sanksi bisa terasa dalam hitungan bulan jika seluruh mitra dagang internasional bersedia mematuhi skema yang diusulkan AS.
Di sisi lain, hubungan AS dengan Kanada juga tengah berada di titik terendah. Perselisihan perdagangan yang memanas pekan lalu bahkan merembet ke ranah simbolis melalui kebijakan sepihak AS yang mengubah penyebutan Danau Ontario menjadi Danau Amerika dalam catatan resmi mereka.
Menteri Keuangan Kanada Francois-Philippe Champagne berusaha meredam situasi dengan menegaskan komitmen negaranya untuk tetap konstruktif. Ia menekankan bahwa prioritas utama Kanada saat ini adalah menjaga stabilitas perdagangan dan memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga meskipun ada gesekan politik yang sedang terjadi.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








