Gagalnya Kudeta Niger Singkap Retakan Internal Militer dan Dominasi Rusia

Upaya kudeta yang gagal di Niger baru-baru ini telah membuka tabir perpecahan mendalam di dalam tubuh angkatan bersenjata negara tersebut. Insiden ini sekaligus menunjukkan ketergantungan junta militer terhadap dukungan luar negeri di tengah memudarnya pengaruh mereka di dalam negeri.
Kondisi keseharian prajurit di Niger kini menjadi sorotan utama setelah aksi pemberontakan tersebut. Mereka harus berhadapan langsung dengan kelompok militan bersenjata dalam situasi lapangan yang sangat sulit dan penuh risiko, namun hanya menerima kompensasi finansial yang minim.
Profesor Abdoulaye Sounaye, seorang pakar kawasan Sahel dari Leibniz-Zentrum Moderner Orient di Berlin, menjelaskan realita ekonomi yang menghimpit para prajurit. Mayoritas anggota militer di sana berpenghasilan kurang dari 150 euro atau sekitar Rp2,5 juta per bulan, sementara mereka memiliki beban tanggung jawab untuk menafkahi enam hingga tujuh anggota keluarga.
Kesenjangan kesejahteraan ini memicu ketidakpuasan meluas di jajaran bawah militer. Mereka merasa dianaktirikan dibandingkan dengan unit pasukan pengawal presiden yang dianggap mendapatkan perhatian serta fasilitas lebih baik oleh pemerintah junta.
Ketidakpuasan tersebut meledak akhir pekan lalu ketika sebagian anggota militer sempat menguasai Pangkalan Udara 101 di bandara internasional Niamey. Mereka mencoba bergerak menuju istana presiden serta kantor penyiaran negara sebelum akhirnya berhasil dipukul mundur.
Seorang tentara yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keluhan mendasar mengenai logistik. Menurutnya, kelompok pemberontak justru seringkali memiliki perlengkapan yang lebih baik, seperti sepeda motor untuk mobilitas cepat, dibandingkan dengan kendaraan militer resmi yang terbatas jumlahnya.
Di balik stabilitas junta saat ini, peran pasukan Rusia yang tergabung dalam Africa Corps menjadi sangat dominan. Pasukan ini merupakan reinkarnasi dari tentara bayaran Grup Wagner yang kini beroperasi di bawah kendali langsung Kementerian Pertahanan Rusia.
Pakar tata kelola asal Senegal, Pape Ibrahima Kane, menilai bahwa rezim General Abdourahamane Tchiani kemungkinan besar sudah jatuh tanpa intervensi pihak Rusia. Meski demikian, ketergantungan ini justru memunculkan kerentanan baru bagi kedaulatan militer Niger itu sendiri.
Eksistensi Africa Corps di Niger kini melampaui misi awal mereka dalam strategi kontraterorisme. Keterlibatan mereka dalam meredam pemberontakan internal di Niamey menegaskan bahwa junta Niger saat ini sangat bergantung pada kekuatan asing untuk mempertahankan cengkeraman kekuasaan.
Fenomena ini menempatkan Niger sebagai titik uji bagi model keamanan yang dianut oleh Aliansi Negara Sahel, sebuah blok yang terdiri dari Niger, Mali, dan Burkina Faso. Ketiga negara tersebut kini semakin berpaling ke Rusia sembari memutus hubungan dengan sekutu Barat mereka.
Dukungan dari Moskow mungkin bisa menjaga stabilitas jangka pendek bagi rezim militer. Namun, selama akar masalah struktural seperti perlengkapan yang memadai dan kesejahteraan prajurit tidak teratasi, ketegangan di dalam tubuh militer Niger diperkirakan masih akan terus membayangi masa depan negara tersebut.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)













