
Presiden FIFA Gianni Infantino kini menghadapi badai kritik dari berbagai pihak, termasuk tuduhan serius sebagai "pembunuh sepak bola" dan "Mafia FIFA". Kecaman terhadap pemimpin organisasi sepak bola dunia ini semakin memuncak setelah aksi protes suporter Prancis.
Kelompok ultras Bad Gones membentangkan spanduk bertuliskan 'Infantino Assasino' dan 'FIFA Mafia' dalam pertandingan kualifikasi Liga Champions antara Lyons dan Sparta Praha. Aksi ini menjadi sorotan publik dan menandai gelombang penolakan terhadap kepemimpinan Infantino.
Kritik tersebut muncul di tengah tekanan besar yang dihadapi Infantino terkait proposal kontroversialnya. Rencana untuk menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta, dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE), mendapat penolakan luas.
Berbagai konfederasi besar seperti UEFA, AFC, dan CONCACAF telah menyatakan keberatan atas proposal FFE yang dinilai kurang konsultasi. Meski proposal itu akhirnya ditarik, penolakan ini menunjukkan ketegangan signifikan dalam tubuh FIFA.
Situasi ini bahkan memicu diskusi di antara pemimpin konfederasi utama tentang kemungkinan membentuk kompetisi tandingan Piala Dunia. Gelombang penarikan dukungan ini mengubah dinamika menjelang pemilihan presiden FIFA Maret 2027.
Sebelumnya, Infantino diperkirakan akan terpilih tanpa lawan, namun kini ia menghadapi oposisi yang nyata. Laporan The Telegraph menyebutkan bahwa 124 negara menentang kepemimpinannya, berbanding 73 yang masih mendukung.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor
