Gotong Royong 4.000 Warga Jepang Geser Kastel Hirosaki dengan Metode Tradisional Hikiya

Pemerintah Kota Hirosaki di Prefektur Aomori, Jepang, melibatkan ribuan warga lokal dalam proyek pelestarian bersejarah untuk menggeser bangunan utama Kastel Hirosaki. Langkah gotong royong ini dilakukan guna menyelamatkan struktur luar Kastel Hirosaki dari ancaman kerusakan akibat gempa bumi.
Sebanyak 4.000 warga berkumpul untuk menarik bangunan seberat 400 ton tersebut menggunakan tambang besar.
Metode yang digunakan dalam proyek ini dikenal dengan sebutan hikiya, sebuah teknik tradisional Jepang untuk memindahkan bangunan tanpa membongkarnya. Para pekerja terlebih dahulu mengangkat seluruh struktur kayu kastel lalu meletakkannya di atas rel khusus. Setelah itu, barulah ribuan warga bersama-sama menarik tali tambang secara perlahan untuk menggeser bangunan tersebut.
Pemindahan struktur ikonik ini terpaksa dilakukan karena dinding batu penyangga di bawahnya mulai melengkung dan rawan runtuh. Pemugaran fondasi batu tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga beberapa tahun ke depan sebelum kastel dikembalikan ke posisi semula.
Kastel Hirosaki yang dibangun pada tahun 1611 ini merupakan salah satu dari segelintir kastel asli era feodal yang tersisa di Jepang.
Dinding batu penyangga kastel tersebut belum pernah mengalami perbaikan menyeluruh selama lebih dari satu abad. Pemerintah setempat khawatir getaran gempa yang kerap melanda wilayah utara Jepang dapat merobohkan struktur bersejarah tersebut sewaktu-waktu. Oleh karena itu, otoritas kota memilih metode hikiya yang dinilai lebih aman bagi keutuhan struktur kayu kuno kastel.
Dalam proses penarikan, bangunan utama dipindahkan sejauh 70 meter dari lokasi aslinya ke area taman terdekat. Setiap tarikan hanya menggeser bangunan beberapa sentimeter, membutuhkan kesabaran luar biasa dan koordinasi ketat dari seluruh peserta.
Kegiatan gotong royong ini tidak hanya menjadi bagian dari proyek rekonstruksi, tetapi juga festival kebudayaan yang mempererat ikatan komunitas lokal.
Anak-anak sekolah, lansia, hingga wisatawan mancanegara ikut memegang tali tambang rami yang tebal dalam prosesi bersejarah ini. Panitia memberikan aba-aba menggunakan genderang tradisional taiko untuk menyelaraskan kekuatan tarikan ribuan orang tersebut. Melalui cara ini, pemindahan struktur raksasa dapat berjalan dengan mulus tanpa menimbulkan retakan pada sambungan kayu kuno.
Biaya proyek restorasi dinding batu dan pemindahan kastel ini diperkirakan mencapai miliaran yen. Sebagian besar dana bersumber dari anggaran pemeliharaan cagar budaya nasional serta donasi dari masyarakat yang peduli akan kelestarian sejarah Jepang.
Jepang memang dikenal memiliki komitmen tinggi dalam menjaga warisan arsitektur kayu mereka tanpa mengandalkan teknologi modern yang destruktif.
Selama masa perbaikan dinding batu, area taman di sekeliling kastel tetap dibuka untuk umum agar roda ekonomi pariwisata daerah tidak lumpuh. Kastel Hirosaki sendiri merupakan destinasi wisata utama di Aomori yang terkenal dengan keindahan bunga sakura di musim semi. Pengelola bahkan menyediakan panggung khusus bagi wisatawan untuk melihat proses restorasi dinding batu dari jarak dekat.
Upaya kolosal ini membuktikan bahwa pelestarian sejarah dapat menyatukan masyarakat dalam satu tujuan bersama. Pemerintah Jepang menargetkan seluruh rangkaian pemugaran selesai sepenuhnya sehingga kastel dapat kembali bertengger di atas bukit batu aslinya pada tahun depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








