
Pasar aset kripto global menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada Jumat ini dengan total kapitalisasi pasar meningkat 2,1 persen menjadi USD 2,89 triliun atau sekitar Rp45.300 triliun.
Kenaikan ini menjadi napas segar bagi pelaku pasar setelah nilai pasar sempat tergerus dari posisi di atas USD 3 triliun (Rp47.000 triliun) pekan lalu, saat Bitcoin masih berupaya menembus level tertinggi tahunannya.
Meski harga menunjukkan tren kenaikan, para pedagang aset kripto tetap berada dalam kondisi waspada. Indeks Fear and Greed saat ini turun ke angka 56, yang mencerminkan sentimen netral dibandingkan posisi 71 atau berada di zona keserakahan pada awal Oktober.
Kecemasan tidak hanya terjadi pada investor ritel, tetapi juga di lantai bursa Wall Street. Berdasarkan data pelacak ETF dari Decrypt, dana yang keluar dari produk ETF Bitcoin mencapai USD 484,9 juta (Rp7,6 triliun) pada hari Rabu, yang tercatat sebagai arus keluar harian terbesar sejak 25 Juni.
Tekanan jual berlanjut pada hari Kamis dengan tambahan keluarnya dana sebesar USD 244 juta (Rp3,8 triliun). Kondisi ini mendorong harga Bitcoin sempat menyentuh level terendah sejak awal September di angka USD 80.427 atau sekitar Rp1,26 miliar.
Pada perdagangan Jumat, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 82.837 (Rp1,3 miliar), naik 1,38 persen secara harian. Meskipun bergerak positif, grafik empat jam menunjukkan harga masih bertahan di bawah rata-rata pergerakan eksponensial periode 50, yang mengindikasikan bahwa tren jangka pendek belum sepenuhnya berbalik menguat.
Analisis teknis menggunakan Average Directional Index (ADX) pada grafik harian menunjukkan angka 37,9. Angka di atas 25 dalam indikator ini menegaskan adanya tren pasar yang nyata, sementara garis arah menunjukkan posisi pembeli masih berada di atas penjual.
Indikator kekuatan relatif atau Relative Strength Index (RSI) saat ini berada di level 51,2 yang menunjukkan posisi netral. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa Bitcoin sedang mengalami fase pendinginan setelah periode jenuh beli yang terjadi sebelumnya.
Luke Deans dari Bitwise Europe menjelaskan bahwa zona harga di angka USD 83.000 menjadi titik pengujian awal bagi pemulihan harga. Area ini menggabungkan biaya rata-rata kepemilikan ETF dengan level tertinggi sebelumnya yang pernah dicapai.
Jika pasar mampu menembus level tersebut, target berikutnya berada di angka USD 84.433 atau sekitar Rp1,32 miliar. Namun, level tertinggi September di angka USD 87.354 (Rp1,37 miliar) tetap menjadi hambatan utama yang harus ditembus sebelum tren kenaikan dapat berlanjut.
Sementara itu, platform pasar prediksi Myriad memproyeksikan probabilitas sebesar 67 persen bahwa harga Bitcoin akan menyentuh level USD 80.000 (Rp1,25 miliar) sepanjang Oktober. Trader kini memantau ketat pergerakan mingguan dengan ekspektasi adanya tekanan harga dalam jangka pendek sebelum ada pemulihan yang lebih stabil.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor
