Harga Bitcoin Terperosok di Bawah USD 83 Ribu Akibat Gejolak Pasar Minyak Dunia

Harga Bitcoin mengalami tekanan jual yang cukup tajam hari ini, merosot hingga di bawah level USD 83.000 (sekitar Rp1,29 miliar) setelah sempat dibuka pada angka USD 85.543 (sekitar Rp1,33 miliar).
Penurunan sebesar 3,2 persen dalam waktu singkat ini memicu kepanikan di kalangan pelaku pasar, terutama bagi para pedagang yang menggunakan instrumen leverage. Data dari CoinGlass mencatat, likuidasi posisi kripto mencapai USD 969 juta (sekitar Rp15,1 triliun) dalam 24 jam terakhir, di mana sebagian besar merupakan posisi long.
Kondisi ini bukan sekadar masalah internal pasar kripto, melainkan imbas dari ketegangan geopolitik global yang menyeret aset berisiko. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak di atas USD 101 per barel akibat meningkatnya serangan kapal di Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.
Kenaikan harga minyak secara langsung memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi Amerika Serikat tenor 10 tahun naik mendekati 5,34 persen, sementara obligasi 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2002 di angka 5,70 persen.
Investor cenderung menarik diri dari aset berisiko saat suku bunga obligasi meningkat, sehingga bursa saham Wall Street seperti S&P 500 dan Nasdaq turut tertekan. Bahkan emas, yang selama ini dianggap sebagai aset pelindung nilai, justru ikut terkoreksi sebesar 1,53 persen menjadi USD 4.123 (sekitar Rp64,3 juta) per ons.
Melihat kondisi teknikal, Bitcoin sempat menunjukkan tanda jenuh jual berdasarkan indikator Relative Strength Index di angka 32,2 pada grafik empat jam. Namun, pelaku pasar tetap harus waspada dengan level psikologis di angka USD 82.776, yang menjadi batas pertahanan terdekat bagi para pembeli.
Sentimen pasar kini tertuju pada rilis notulensi rapat Federal Reserve yang dijadwalkan hari ini. Pernyataan dari bank sentral AS tersebut akan menjadi katalis utama bagi pergerakan aset keuangan global di tengah tekanan inflasi yang masih membayangi pasar minyak.
Para analis memantau ketat level resistensi di angka USD 84.877 untuk melihat apakah tren kenaikan Bitcoin dalam jangka panjang masih mampu bertahan. Selama pola rata-rata pergerakan eksponensial jangka panjang tetap berada di atas level jangka pendek, struktur uptrend secara luas dinilai belum sepenuhnya terpatahkan meski volatilitas sedang tinggi.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor













