Harga Emas Dunia Menguat Tipis Usai Data Inflasi Amerika Serikat Melandai

Harga emas dunia menunjukkan tren penguatan tipis pada akhir perdagangan Kamis (1/10/2026) waktu Amerika Serikat. Kenaikan ini terjadi setelah rilis data inflasi AS yang berada di bawah ekspektasi pasar, sehingga meredam spekulasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS, The Fed.
Emas spot tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,2 persen ke level 4.165,29 dollar AS per troy ounce, atau setara dengan sekitar Rp63,8 juta per troy ounce dengan asumsi kurs Rp15.300 per dollar AS. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember 2026 ditutup menguat 0,4 persen menjadi 4.202,30 dollar AS per troy ounce.
Meskipun mencatat kenaikan harian, kinerja logam mulia ini sebenarnya masih tertekan selama satu bulan terakhir. Tercatat, emas telah merosot lebih dari 6 persen sepanjang September lalu akibat sentimen kebijakan moneter yang ketat.
Melandainya inflasi AS pada Agustus serta adanya revisi penurunan tekanan harga dari bulan sebelumnya telah memicu perubahan arah sentimen investor. Probabilitas kenaikan suku bunga oleh The Fed pada bulan ini kini menyusut drastis ke angka 31 persen. Sebagai catatan, angka ini turun signifikan dari posisi 45 persen sesaat sebelum data dirilis dan jauh lebih rendah dibandingkan 69 persen pada pekan sebelumnya.
Dinamika proyeksi kebijakan moneter ini memberikan dorongan positif bagi komoditas emas di pasar global. Perlu diketahui bahwa The Fed adalah institusi otoritas moneter tertinggi di AS yang menentukan suku bunga acuan dunia.
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, menyebut penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi katalis utama bagi pasar. Sentimen ini memberikan napas bagi pelaku pasar yang sempat khawatir akan kebijakan moneter yang lebih agresif.
Namun, laju penguatan emas masih harus berhadapan dengan hambatan besar berupa lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai level tertinggi dalam dua dekade. Kondisi ini membuat biaya peluang untuk menyimpan aset tanpa imbal hasil, seperti emas, menjadi lebih mahal.
Tekanan bagi emas juga datang dari penguatan nilai tukar dollar AS serta potensi risiko inflasi tambahan. Risiko ini muncul akibat lonjakan harga energi di pasar global pasca kebijakan penghentian ekspor produk minyak oleh China.
Meger menambahkan bahwa segala bentuk kenaikan kemungkinan suku bunga akan terus menekan pasar logam mulia. Kenaikan harga energi yang ekstrem atau eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu tekanan jual kembali.
Kini, perhatian pelaku pasar global beralih pada rilis data ketenagakerjaan AS nonfarm payrolls September yang dijadwalkan terbit pada Jumat waktu setempat. Data tersebut menjadi acuan penting untuk mengukur kesehatan ekonomi AS terkini.
Selain emas, logam lainnya juga bergerak variatif di pasar global. Perak spot tercatat naik 0,2 persen ke 60,51 dollar AS per troy ounce dan platinum naik 0,1 persen ke 1.707,56 dollar AS per troy ounce. Sebaliknya, palladium justru melemah cukup dalam sebesar 2,2 persen ke level 1.178,57 dollar AS per troy ounce.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)












