Langsung ke konten
beritana

Harga Minyak Dunia Anjlok Setelah Pakistan Umumkan Kesepakatan AS-Iran

Foto Beritana UpdateBeritana Update3 menit bacaWorld
4688b200-67d3-11f1-9c4b-77e30dd66647.jpg
Foto: BBC World

Harga minyak global anjlok tajam di pasar Asia pada Senin, menyusul pengumuman Pakistan mengenai kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk meredakan ketegangan. Perjanjian ini, yang dimediasi Pakistan, berpotensi membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz yang sebelumnya terhambat, bahkan Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa minyak akan kembali mengalir bebas.

Patokan global minyak mentah Brent terkoreksi 4,8 persen menjadi USD 83,18 per barel (sekitar Rp1.347.000). Sementara itu, harga minyak yang diperdagangkan di pasar AS juga turun 5,6 persen, diperdagangkan di level USD 80,13 per barel (sekitar Rp1.297.000).

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan upacara penandatanganan resmi kesepakatan ini dijadwalkan pada Jumat, 19 Juni di Swiss.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengonfirmasi finalisasi kesepakatan dengan AS melalui sambungan telepon yang disiarkan televisi pemerintah. Di sisi lain, Presiden Trump, melalui media sosialnya, secara singkat menuliskan, "biarkan minyak mengalir!".

Kendati demikian, Vandana Hari dari firma analisis pasar energi Vanda Insights memperingatkan bahwa kurangnya rincian mengenai apa yang telah disepakati kemungkinan akan menyuntikkan kegelisahan dan ketidakpastian ke pasar. Situasi ini, menurutnya, dapat berarti satu pekan penuh volatilitas untuk pasar minyak global. Hal ini menekankan betapa pentingnya transparansi dalam perjanjian sebesar ini untuk menjaga stabilitas pasar.

Selat Hormuz sendiri praktis ditutup sejak tak lama setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari lalu. Penutupan jalur air ini telah memicu kekhawatiran serius di tingkat global mengenai pasokan energi.

Tehran sebelumnya mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melewati jalur air krusial ini, yang normalnya menjadi rute bagi sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Pasar energi global telah mengalami gejolak tajam dalam beberapa bulan terakhir, dengan harga sering naik atau turun drastis menanggapi perkembangan konflik AS-Israel dengan Iran. Minyak mentah Brent, yang diperdagangkan sekitar USD 70 per barel sebelum konflik dimulai, sempat melonjak hingga sekitar USD 120 selama masa perang. Fluktuasi harga tersebut mencerminkan sensitivitas pasar terhadap ketegangan geopolitik di wilayah tersebut.

Para ahli pasar energi juga memperingatkan bahwa pergerakan minyak melalui selat tersebut kemungkinan tidak akan segera kembali ke tingkat pra-perang. Andrew Lipow dari perusahaan konsultan Lipow Oil Associates menyebutkan bahwa ranjau-ranjau perlu dibersihkan dari jalur air tersebut, sebuah proses yang bisa memakan waktu dari beberapa minggu hingga enam bulan. Selain itu, ada antrean panjang kapal tanker yang menunggu untuk menggunakan jalur air, dan memulai kembali produksi minyak serta normalisasi bongkar muat kapal bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Pengumuman kesepakatan ini juga disambut positif oleh pasar saham Asia pada Senin, seiring investor menyambut baik perjanjian tersebut. Indeks saham Nikkei 225 Jepang naik 5,4 persen dalam perdagangan pagi, sementara Kospi di Korea Selatan melonjak lebih dari 5,5 persen. Kawasan Asia Pasifik sangat terpukul oleh harga energi yang lebih tinggi karena sangat bergantung pada pasokan minyak dan LNG dari Timur Tengah.

Namun, detail kesepakatan ini masih diselimuti ketidakjelasan dan potensi kegagalan. Pakistan menyatakan bahwa kesepakatan itu mencakup Lebanon, meskipun gencatan senjata sebelumnya di sana seringkali gagal. Israel mengklaim telah menargetkan kelompok bersenjata yang didukung Iran, Hezbollah, dan Tehran memperingatkan tindakan ini dapat menggagalkan kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri pertempuran.

Komentar Presiden AS mengenai kesepakatan ini muncul saat Iran sendiri menyatakan bahwa tanggal pasti belum diputuskan. Pejabat AS mengatakan kesepakatan akan mengarah pada penghancuran uranium yang diperkaya Iran, namun rincian lebih lanjut masih harus disepakati.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update