Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Tutup Karier dengan Empat Gelar Bergengsi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4265162/original/053966100_1671397771-20221219-Selebrasi-Argentina-AP-11.jpg)
Lionel Messi resmi menutup lembaran karier internasionalnya bersama tim nasional Argentina dengan penampilan yang akan terus dikenang. Sang legenda mengakhiri perjalanannya di panggung dunia dalam laga melawan Benin di Stadion Monumental pada Rabu pagi WIB.
Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan 3-0 bagi Argentina. La Pulga mencatatkan kontribusi nyata lewat satu gol dari titik putih dan dua assist yang memanjakan rekan setimnya.
Catatan statistik Messi selama membela negara menunjukkan dedikasi yang luar biasa tinggi. Ia menuntaskan kariernya dengan total 208 penampilan dan mengoleksi 126 gol internasional sejak debutnya dua dekade silam. Angka ini menempatkannya sebagai salah satu pencetak gol tersubur dalam sejarah sepak bola putra dunia.
Pencapaian ini melampaui rekor legenda Iran, Ali Daei, yang membukukan 108 gol. Messi kini hanya berada di bawah Cristiano Ronaldo yang mengoleksi 146 gol internasional sepanjang karier profesionalnya.
Gelar juara Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi puncak kejayaan bagi pemain yang kini berusia 39 tahun tersebut. Trofi tersebut melengkapi koleksi gelar senior yang diraihnya bersama tim nasional Argentina dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
Sebelum merajai dunia, Messi memutus rantai puasa gelar senior negaranya lewat Copa America 2021. Kemenangan atas Brasil di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, menjadi titik balik kepercayaan diri tim yang berjuluk La Albiceleste itu.
Kesuksesan berlanjut saat Argentina menaklukkan Italia dalam ajang Finalissima. Finalissima merupakan pertandingan tahunan antara juara Copa America dan juara Piala Eropa untuk mempertemukan kekuatan sepak bola dari dua benua berbeda.
Dominasi tersebut disempurnakan dengan keberhasilan mempertahankan gelar Copa America pada 2024. Secara total, Messi mempersembahkan empat trofi bergengsi bagi negaranya di penghujung pengabdian panjangnya.
Jauh sebelum trofi senior tersebut diraih, Messi muda pernah membawa Argentina meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008. Meski turnamen Olimpiade lebih berfokus pada pemain muda, medali tersebut menjadi fondasi awal hubungan emosional yang kuat antara sang kapten dan pendukung Argentina.
Perjalanan selama 21 tahun ini tidak selalu berjalan mulus. Messi sempat mengalami masa-masa sulit berupa kegagalan di berbagai final turnamen besar yang memicu kritik keras dari publik di negaranya sendiri.
Namun, transformasi yang ia tunjukkan membuktikan ketangguhan mental seorang megabintang. Ia berhasil mengubah narasi dari kegagalan menjadi periode emas yang akan terus menjadi rujukan bagi generasi pemain Argentina berikutnya.
Keputusan gantung sepatu dari tim nasional ini menandai berakhirnya era besar sepak bola dunia. Messi pergi dengan status sebagai ikon yang telah memenangkan segalanya di level internasional.
Publik Argentina tentu akan terus merindukan sosok pemimpin di lapangan hijau tersebut. Warisan yang ia tinggalkan di Stadion Monumental dan stadion lainnya di seluruh dunia kini telah abadi dalam buku sejarah olahraga.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor





:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367210/original/084659200_1791337156-messi_2.jpg)







