Mengapa Serangan Beruang di Jepang Meningkat Pesat dalam Beberapa Tahun Terakhir

Kasus serangan beruang terhadap manusia di Jepang terus melonjak seiring dengan berkurangnya rasa takut hewan tersebut terhadap warga. Para ahli menyebut pergeseran perilaku ini dipicu oleh kelangkaan sumber makanan di habitat alami mereka.
Jeff Kingston, seorang akademisi Amerika yang tinggal di Jepang, merupakan salah satu penyintas serangan beruang. Ia memiliki bekas luka permanen di wajah dan bahunya setelah berhadapan dengan beruang di wilayah pedesaan Prefektur Gunma pada tahun 2014.
Menurut Kingston, beruang yang ia temui kini tampak jauh lebih agresif dibandingkan dekade sebelumnya. Ia mengaku telah menjumpai beruang sebanyak 100 kali dan sempat mengalami pengejaran sebanyak 15 kali selama bertualang di gunung.
Laporan lingkungan pemerintah Jepang tahun 2026 menyebutkan bahwa beruang telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan publik. Sepanjang tahun fiskal hingga 31 Maret lalu, tercatat lebih dari 50.000 penampakan beruang di berbagai wilayah.
Data resmi menunjukkan rekor 238 orang terluka akibat konfrontasi dengan beruang, sementara 13 orang lainnya dilaporkan tewas. Angka ini berpotensi terlampaui tahun ini karena sejak April, sudah ada 25 orang terluka dan empat kematian.
Kevin Short, seorang naturalis dan mantan profesor antropologi budaya, menjelaskan bahwa hilangnya habitat asli menjadi faktor utama. Beruang kini terpaksa masuk ke lahan pertanian dan pemukiman untuk mencari buah-buahan seperti kesemek atau sisa sampah manusia.
Selain itu, penurunan jumlah pemburu di wilayah pedesaan membuat populasi beruang lebih leluasa menjelajahi area suburban. Penelitian pada beruang yang dieutanasia menunjukkan penurunan tingkat stres dan hilangnya naluri takut terhadap manusia pada generasi beruang saat ini.
Dampak perubahan iklim juga memperburuk situasi karena mengganggu siklus ketersediaan kacang dan beri yang menjadi sumber makanan utama sebelum masa hibernasi. Musim dingin yang lebih hangat menyebabkan beruang terbangun lebih awal dan berkeliaran lebih lama demi mencari nutrisi.
Berbagai inovasi kini dikembangkan untuk menekan risiko konflik, mulai dari penggunaan orang-orangan sawah animatronik hingga aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau AI. Yusuke Fukazawa dari Sophia University telah menciptakan sistem prediksi berbasis AI untuk membantu warga menghindari area yang berpotensi memiliki aktivitas beruang tinggi.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor







