Langsung ke konten
beritana

Pertemuan Trump dan Modi: Akankah Mampu Atasi Kemunduran Hubungan AS-India?

Foto Beritana UpdateBeritana Update3 menit bacaWorld
Can a Trump-Modi Meeting Reset U.S.-India Relations?
Foto: NYT World

Wacana pertemuan kembali antara mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi kembali mencuat ke publik, memicu pertanyaan besar mengenai arah hubungan kedua negara. Sejak terakhir kali bertemu lebih dari setahun lalu, kemesraan retoris yang sering mereka tunjukkan tampaknya tidak selalu sejalan dengan dinamika hubungan bilateral.

Meski kedua pemimpin secara konsisten menyampaikan pujian timbal balik, realitas geopolitik dan kepentingan nasional yang kompleks telah menciptakan serangkaian tantangan signifikan dalam relasi Amerika Serikat dan India.

Ketika masih menjabat, Donald Trump dan Narendra Modi dikenal memiliki kemistri personal yang kuat, seringkali didemonstrasikan melalui pertemuan publik yang megah seperti acara 'Howdy, Modi!' di Houston dan 'Namaste Trump' di Ahmedabad. Kedua pemimpin ini juga memiliki narasi politik yang serupa, dengan Trump mengusung 'America First' dan Modi dengan 'Make in India,' yang sama-sama menekankan kedaulatan ekonomi dan nasionalisme.

Sikap saling mengagumi ini menjadi landasan bagi harapan besar terhadap penguatan kemitraan strategis antara dua demokrasi terbesar dunia. Namun, di balik retorika yang hangat itu, berbagai kendala telah menguji fondasi hubungan yang telah terbangun.

Serangkaian kemunduran signifikan telah menandai hubungan bilateral Amerika Serikat dan India pasca-pertemuan terakhir mereka.

Salah satu area friksi utama adalah masalah perdagangan. Pemerintahan Trump, yang dikenal tegas dalam isu tarif, menarik status India sebagai negara penerima Generalized System of Preferences (GSP) pada tahun 2019, yang memungkinkan akses bebas bea untuk sejumlah produk India ke pasar AS. Langkah ini diambil setelah negosiasi perdagangan yang panjang tidak membuahkan hasil, di mana Washington menuntut akses pasar yang lebih besar untuk produk pertanian dan medis Amerika.

Selain itu, isu visa H-1B yang banyak dimanfaatkan oleh tenaga profesional India untuk bekerja di Amerika Serikat juga menjadi titik gesekan. Kebijakan imigrasi yang lebih ketat di era Trump menyebabkan kekhawatiran di kalangan sektor teknologi India.

Aspek lain yang memperumit adalah posisi India dalam dinamika geopolitik global. Meskipun Amerika Serikat berupaya menarik India lebih dekat sebagai penyeimbang pengaruh Tiongkok, New Delhi tetap mempertahankan otonomi strategisnya. Hal ini terlihat dari keputusan India untuk melanjutkan pembelian sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia, yang bertentangan dengan sanksi AS terhadap Moskow.

Ketidakselarasan ini menyoroti bagaimana kepentingan strategis India terkadang tidak sepenuhnya sejalan dengan prioritas kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Hubungan AS-India, yang secara luas dianggap krusial untuk stabilitas kawasan Indo-Pasifik dan sebagai penyeimbang kekuatan Tiongkok, kini berada di persimpangan jalan. Pertemuan berikutnya antara Trump dan Modi—jika terwujud—akan menjadi kesempatan penting untuk mengevaluasi kembali strategi bilateral.

Pembaruan diplomatik diharapkan dapat mengatasi isu-isu yang tertunda dan menetapkan agenda yang lebih konkret demi kemitraan yang lebih tangguh dan berorientasi pada hasil nyata, bukan hanya pujian verbal semata.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update