Potensi Stablecoin Menguras Likuiditas Bank dalam Hitungan Detik

Stablecoin kini menjadi kekuatan finansial baru yang mampu memindahkan dana antarnegara dengan kecepatan luar biasa dibandingkan sistem perbankan tradisional.
Kehadiran aset kripto yang dipatok dengan mata uang fiat ini menawarkan efisiensi transaksi 24 jam sehari, sebuah kontras nyata dengan sistem perbankan konvensional yang masih terikat pada hari kerja dan proses kliring yang lambat. Namun, kecepatan ini menyimpan risiko sistemik bagi stabilitas perbankan global.
Bank Sentral Eropa (ECB) mencatat adanya potensi ketidaksesuaian likuiditas antara dana digital dan sistem perbankan yang menopangnya. Masalah muncul ketika aset cadangan stablecoin yang tersimpan di bank tidak bisa dicairkan secepat permintaan penebusan oleh pengguna, yang berisiko memicu penarikan besar-besaran secara mendadak.
Kasus kegagalan Silicon Valley Bank pada Maret 2023 menjadi bukti nyata betapa cepatnya kepanikan digital merambat ke dunia nyata. Saat itu, USD Coin sempat kehilangan nilai patokannya setelah diketahui miliaran dolar cadangannya tersimpan di bank yang sedang mengalami krisis, memaksa otoritas turun tangan untuk menstabilkan situasi.
Fenomena ini tidak hanya terbatas pada krisis mendadak, tetapi juga terjadi secara perlahan di negara dengan inflasi tinggi. Di Argentina, Turki, dan Nigeria, masyarakat mulai beralih ke stablecoin sebagai cara untuk mendapatkan akses terhadap dolar Amerika Serikat tanpa harus melalui hambatan perbankan domestik yang kaku.
Arnold Lee, Chief Executive Sphere Labs, menjelaskan bahwa adopsi stablecoin pada dasarnya merupakan bentuk permintaan dolar dari masyarakat yang terpinggirkan oleh sistem keuangan tradisional. Ketika warga di negara dengan inflasi tinggi menukar mata uang lokal mereka ke dalam dolar digital, basis simpanan bank lokal akan tergerus.
Situasi ini mempersulit bank sentral dalam mengendalikan kebijakan moneter karena transmisi keuangan lokal melemah akibat pelarian modal ke aset digital. Dampak lanjutannya adalah tekanan pada nilai tukar mata uang lokal yang membuat dolar menjadi semakin mahal untuk diperoleh.
Meskipun demikian, stablecoin belum sepenuhnya menggantikan peran bank sebagai institusi utama. Banyak perusahaan kini menggunakan stablecoin hanya sebagai jalur transaksi lintas batas yang lebih cepat, namun tetap melakukan konversi kembali ke mata uang fiat segera setelah pembayaran selesai.
Pankaj Bengani, pendiri perusahaan pembayaran MELD, mencatat bahwa mayoritas klien korporasi mereka menggunakan stablecoin untuk menggantikan sistem transfer SWIFT. Bagi mereka, stablecoin berfungsi sebagai pipa penyalur yang efisien, sementara cadangan dana tetap berada di bank untuk tujuan kepatuhan dan likuiditas.
Transformasi ini tidak serta merta membuat bank menghilang dari ekosistem keuangan global. Peran perbankan kini bergeser menjadi penyedia kustodian dan jembatan bagi penyelesaian transaksi lokal yang tetap membutuhkan otoritas resmi agar sistem tetap berjalan dengan aman.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












