SEC Dorong Aturan Agen Transfer Baru untuk Mendukung Perdagangan 24 Jam

Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat atau SEC baru saja mengajukan usulan aturan baru yang menyasar peran agen transfer di pasar modal.
Langkah ini diambil di tengah upaya regulator untuk menjajaki kemungkinan penerapan sistem perdagangan saham selama 24 jam penuh di pasar Amerika Serikat. Agen transfer sendiri merupakan lembaga yang bertanggung jawab mencatat perubahan kepemilikan efek serta mendistribusikan dividen kepada investor.
Usulan tersebut secara tidak langsung bersinggungan dengan teknologi blockchain yang memungkinkan pencatatan transaksi secara instan.
SEC memandang perlunya pembaruan regulasi karena sistem lama dinilai terlalu lambat untuk menopang ambisi pasar yang beroperasi tanpa henti. Saat ini, perdagangan saham di bursa Amerika Serikat masih terikat dengan jam operasional konvensional yang memiliki jeda waktu cukup panjang di luar jam kerja pasar.
Untuk mematangkan rencana besar ini, lembaga tersebut telah menjadwalkan diskusi meja bundar yang melibatkan para pelaku industri keuangan terkait. Forum ini akan membedah berbagai kendala teknis dan operasional jika perdagangan harus berjalan sepanjang waktu.
Penggunaan teknologi buku besar terdistribusi atau blockchain menjadi salah satu topik hangat dalam diskusi tersebut. Teknologi ini diharapkan mampu memberikan efisiensi yang lebih baik dalam penyelesaian transaksi dibandingkan sistem perbankan tradisional yang ada saat ini.
Jika terealisasi, perubahan ini akan memberikan akses yang lebih luas bagi investor ritel maupun institusi di berbagai belahan dunia untuk bertransaksi kapan saja. Hal ini sejalan dengan meningkatnya minat pasar terhadap aset digital yang memang sudah diperdagangkan selama 24 jam setiap harinya.
Meski demikian, banyak pihak menyoroti tantangan regulasi terkait perlindungan investor saat pasar buka di luar jam kerja normal. Risiko likuiditas serta volatilitas harga di luar jam operasional menjadi perhatian serius bagi regulator dan para pialang saham di Wall Street.
Pihak SEC menegaskan bahwa keamanan sistem menjadi prioritas utama sebelum aturan baru tersebut benar-benar diadopsi ke dalam hukum pasar modal. Mereka kini tengah mengumpulkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan untuk meminimalisasi potensi kegagalan sistemik.
Perkembangan di Amerika Serikat ini diprediksi akan menjadi standar baru bagi bursa global di masa depan. Adaptasi teknologi digital dalam infrastruktur keuangan memang menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan seiring dengan percepatan arus informasi dan modal antarnegara.
Bagi pasar modal Indonesia, langkah yang diambil SEC dapat menjadi referensi berharga untuk mengevaluasi sistem penyelesaian transaksi saat ini. Meskipun sistem perdagangan 24 jam belum menjadi agenda mendesak, efisiensi melalui teknologi blockchain merupakan masa depan industri keuangan yang perlu dicermati sejak dini.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor









