SVB Runtuh: Diskriminasi Modal Pengusaha Kulit Berwarna Kian Terkuak

Keruntuhan Silicon Valley Bank (SVB) telah memperburuk tantangan akses modal yang dihadapi oleh pengusaha kulit berwarna. Peristiwa ini sekaligus menyoroti praktik diskriminatif yang mengakar dalam industri perbankan terhadap komunitas minoritas. Arlan Hamilton, seorang *venture capitalist*, segera bertindak membantu para pendiri *startup* kulit berwarna yang panik kehilangan akses dana gaji.
SVB dikenal melayani komunitas yang kurang terwakili, termasuk pengusaha kulit berwarna, dan kegagalannya memicu kembali kekhawatiran tentang kesenjangan modal. Hamilton menyatakan, “Ketika badai datang, kami akan lebih terpukul,” menggambarkan kerentanan pengusaha minoritas. Bank yang didirikan pada tahun 1983 ini adalah bank terbesar ke-16 di AS sebelum ambruk pada 10 Maret.
SVB aktif membina komunitas pengusaha minoritas melalui sponsor konferensi dan pendanaan laporan penting seperti *State of Black Venture Report*. Joynicole Martinez, seorang pengusaha berpengalaman, menyebut SVB sebagai sumber daya tak ternilai. Ia menegaskan, “Ketika bank lain mengatakan tidak, SVB akan mengatakan ya” kepada para kliennya.
Data dari *Small Business Credit Survey* Federal Reserve menunjukkan kesenjangan signifikan dalam tingkat penolakan pinjaman. Pada tahun 2021, hanya sekitar 16% perusahaan yang dipimpin kulit hitam mendapatkan pendanaan penuh, jauh di bawah 35% perusahaan milik kulit putih. Martinez menekankan bahwa rasisme historis dan sistemik adalah akar masalahnya.
Asya Bradley, pendiri perusahaan teknologi imigran, bergabung dengan grup WhatsApp ribuan pendiri untuk mencari solusi pendanaan pasca-SVB. Banyak wanita, orang kulit berwarna, dan imigran sering memilih bank komunitas atau regional seperti SVB karena penolakan dari “empat bank terbesar” seperti JPMorgan Chase dan Bank of America. Bradley menyatakan, “Empat bank teratas tidak menginginkan bisnis kami; mereka menolak kami secara konsisten.”
Meskipun bank-bank besar telah mengumumkan miliaran dolar untuk mengatasi ketidaksetaraan rasial, bank-bank milik kulit hitam dengan aset lebih kecil berjuang untuk menutup kesenjangan pinjaman. Para *angel investor* seperti Bradley tetap optimistis bahwa bank komunitas, regional, dan *fintech* akan meneruskan “karya baik SVB”. Mereka diharapkan terus mendukung pendiri yang kurang terwakili.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor












