UEFA Jatuhkan Sanksi Empat Laga untuk Matteo Guendouzi di Liga Champions

Badan Pengawas, Etika, dan Disiplin (CEDB) UEFA secara resmi menjatuhkan sanksi larangan bermain empat pertandingan di Liga Champions kepada gelandang Fenerbahce, Matteo Guendouzi. Keputusan ini terkait dengan aksi provokasi yang dilakukannya saat leg kedua kualifikasi melawan Lyon pada Kamis, 27 Agustus lalu.
Hukuman berat tersebut diberikan setelah investigasi menyeluruh menunjukkan bahwa Guendouzi terbukti melakukan tindakan menghina individu di stadion, memprovokasi penonton, serta melanggar aturan dasar perilaku dan sportivitas yang dijunjung tinggi UEFA. Peristiwa ini terjadi dalam laga sengit yang berakhir dengan kemenangan Fenerbahce 2-1.
Selain larangan bertanding, pemain yang dikenal memiliki temperamen tinggi ini juga diwajibkan membayar denda administratif sebesar 50.000 Euro, atau setara dengan sekitar Rp870 juta (kurs Rp17.400 per Euro). Denda tersebut menjadi konsekuensi atas kericuhan yang melibatkan dirinya dengan para pendukung tuan rumah di lapangan.
Sejarah Guendouzi, termasuk saat membela klub seperti Arsenal dan Marseille, kerap diwarnai insiden kontroversial. Sanksi ini menggarisbawahi komitmen UEFA untuk menjaga integritas kompetisi dan menindak tegas perilaku yang merusak citra sepak bola, terutama di ajang bergengsi sekelas Liga Champions.
Tidak hanya Guendouzi, sanksi disipliner juga dijatuhkan kepada pemain Fenerbahce lainnya, Mason Greenwood, yang baru saja bergabung. Ia didenda sebesar 30.000 Euro (sekitar Rp522 juta) dan dilarang bermain dalam satu pertandingan Liga Champions.
Insiden ini jelas berdampak pada kekuatan Fenerbahce menjelang babak penting kualifikasi Liga Champions. Kehilangan dua pemain kunci, terutama gelandang berpengalaman seperti Guendouzi, dapat mempengaruhi strategi dan kedalaman skuad tim asal Turki tersebut.
Secara keseluruhan, klub Fenerbahce juga tidak luput dari hukuman. Mereka menerima denda tambahan sebesar 95.000 Euro (sekitar Rp1,65 miliar) menyusul berbagai pelanggaran, termasuk perilaku buruk tim, gangguan ketertiban penonton, dan penggunaan kembang api di area tribun. UEFA memang sangat ketat dalam menegakkan peraturan terkait keselamatan dan ketertiban di stadion.
Di sisi lain, pihak Lyon juga dijatuhi sanksi denda sebesar 108.000 Euro (sekitar Rp1,88 miliar). Denda ini merupakan akumulasi dari pelanggaran seperti pelemparan benda oleh penonton, penggunaan piroteknik, gangguan ketertiban publik, serta pelanggaran perilaku tim mereka.
Kiper Lyon, Antonio Ferreira, menerima hukuman paling berat di antara jajaran staf. Ia dijatuhi sanksi larangan mendampingi tim dalam lima pertandingan UEFA. Sanksi ini diberikan atas tindakan penyerangan serius yang dilakukannya, sebuah pelanggaran etika dan disiplin yang tidak bisa ditolerir dalam lingkungan sepak bola profesional.
Serangkaian sanksi ini mengirimkan pesan kuat dari UEFA mengenai pentingnya menghormati peraturan, menjaga sportivitas, dan memastikan keamanan di setiap pertandingan. Baik pemain, staf, maupun klub harus bertanggung jawab penuh atas tindakan mereka di dalam maupun di luar lapangan.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor











