Bitcoin Policy Institute Pertanyakan Aturan Baru MSCI Terhadap Perusahaan Kripto

Lembaga pemikir Bitcoin Policy Institute (BPI) baru saja mengajukan kritik tajam terhadap proposal terbaru dari penyedia indeks pasar global, MSCI.
Kritik ini muncul setelah MSCI mengusulkan aturan baru terkait klasifikasi perusahaan non-operasional yang berpotensi mengeluarkan emiten seperti MicroStrategy dan Metaplanet dari daftar indeks global mereka.
MSCI sendiri merupakan penyedia tolok ukur atau indeks acuan yang digunakan oleh manajer investasi di seluruh dunia untuk mengukur performa pasar saham.
Dalam laporan penelitian bertajuk Wall Street’s Invisible Committee, BPI menemukan kejanggalan dalam dokumen presentasi internal milik MSCI.
Metadata pada dokumen tersebut menunjukkan bahwa materi yang menjadi dasar konsultasi publik ini tersimpan dalam folder digital yang secara spesifik merujuk pada perusahaan dengan kepemilikan aset kripto sebagai kas perusahaan.
BPI menilai temuan ini memberikan indikasi bahwa MSCI sebenarnya masih berupaya mengecualikan perusahaan berbasis kripto, meskipun mereka telah mengubah narasi aturan menjadi kategori perusahaan non-operasional yang lebih luas.
Jika aturan ini diterapkan, MSCI akan menilai apakah sebuah perusahaan memiliki aset operasional yang cukup sebelum memberikan lima pengujian finansial tambahan.
Simulasi internal MSCI menunjukkan bahwa kebijakan ini akan mendepak MicroStrategy, Metaplanet, dan perusahaan investasi uranium Yellow Cake dari indeks mereka.
Dampak dari penghapusan ini cukup masif bagi para investor ritel maupun institusional.
Dana investasi yang mengikuti indeks MSCI akan dipaksa menjual kepemilikan saham perusahaan yang dikeluarkan dari daftar, sehingga menciptakan tekanan jual yang besar bagi emiten terkait.
Analis JPMorgan sebelumnya memperkirakan MicroStrategy berisiko menghadapi aliran keluar dana sekitar USD 2,8 miliar (sekitar Rp43,7 triliun) jika didepak dari indeks utama.
Selain masalah metodologi, BPI juga menyoroti penggunaan istilah aset operasional yang dianggap tidak memiliki standar akuntansi baku.
Dalam standar akuntansi Amerika Serikat maupun standar pelaporan keuangan internasional, istilah aset operasional tidak didefinisikan secara kaku dalam neraca keuangan perusahaan.
Hal ini memberikan kewenangan subjektif yang sangat besar bagi MSCI dalam mengklasifikasikan aset perusahaan, mulai dari uang tunai, proyek konstruksi, hingga investasi strategis lainnya.
BPI berargumen bahwa risiko ini tidak hanya mengancam perusahaan kripto, tetapi juga sektor lain yang padat modal seperti perusahaan tambang atau jaringan satelit.
Perusahaan-perusahaan tersebut seringkali membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan dukungan pendanaan eksternal sebelum mampu menghasilkan pendapatan rutin yang stabil.
Kondisi ini membuat mereka rentan dikategorikan sebagai perusahaan non-operasional oleh MSCI jika parameter penilaiannya tidak transparan dan dapat direproduksi oleh pihak luar.
Saat ini, MSCI telah menutup periode penerimaan masukan publik pada 30 September dan dijadwalkan mengumumkan keputusan akhir pada 16 Oktober mendatang.
Setiap perubahan yang disepakati rencananya akan mulai berlaku dalam tinjauan indeks bulan November 2026 mendatang.
BPI mendesak agar MSCI segera mempublikasikan kriteria yang lebih jelas dan objektif untuk menentukan perusahaan mana yang memenuhi syarat masuk dalam indeks pasar mereka.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor












:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363256/original/065722700_1790847152-ronaldo_2.jpg)


